Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Uniknya, pasar yang buka setiap 36 hari sekali ini hanya menyediakan jajanan tradisional, seperti dawet, kucur, pisang rebus, kedelai, kacang tanah, talas, dan beragam jajanan pasar tradisional lainnya. Yang lebih mengejutkan, pengunjung Pasar Gerit datang dari berbagai daerah di luar Pati, seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, dan sebagian besar Jawa Tengah.

Mereka datang untuk berdoa di petilasan Mbah Duni, seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai wali Jawa. Petilasan Mbah Duni berada di dalam kawasan pasar, tertutup dalam rumah kecil sederhana yang terbuat dari bambu.

Pengunjung yang datang, cukup membeli bunga seharga Rp 10 ribu, masuk ke petilasan Makam Mbah Duni untuk menabur bunga. Ditemani juru kunci, mereka berdoa untuk kesembuhan, ketentraman keluarga atau permintaan lainnya. Pengunjung akan datang lagi ke Pasar Gerit, ketika doa yang dipanjatkan dikabulkan.

Sofwan, juru kunci petilasan Mbah Duni menuturkan, tradisi itu sudah berlangsung lama, sejak 1965. "Mbah Duni dikabarkan sebagai seorang pengelana. Suatu ketika, berhenti di daerah ini untuk makan jajanan. Itu sebabnya, penjual di pasar ini hanya berjualan jajanan tradisional. Dulu, beliau juga bilang kalau ada anak cucu kesusahan, sakit, minta kesembuhan, bisa datang ke tempat ini," kata Sofwan.Duriyat (55), warga Kelet, Keling, Jepara mengaku sudah sering datang ke Pasar Gerit sejak kecil. Dia biasa membawa anaknya yang sakit untuk didoakan di sana agar diberi kesembuhan. Kali ini, Duriyat mengalami sakit demam yang tak kunjung sembuh selama seminggu."Saya nazar, kalau sembuh datang ke sini. Nah, ini sudah sembuh makanya datang ke sini, meski datangnya agak telat, karena sembuhnya sudah lama. Saya tahu Pasar Gerit sudah lama, sejak kecil. Saya anggap tempat ini keramat, sehingga mustajab untuk berdoa kepada Allah," tuturnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler