Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kayu-kayu tak terpakai yang diperoleh pekarangan rumah dibuat menjadi aksesori, seperti gantungan kunci. Namun, saat ini Lutfi mencoba untuk fokus memproduksi rumah adat Pati yang selama ini mulai hilang ditelan kemajuan zaman.

"Rumah adat Pati saat ini mulai hilang dan susah ditemukan. Kondisi itu menginspirasi saya untuk membuat diorama atau benda miniatur tiga dimensi berupa rumah adat Pati. Responsnya luar biasa. Banyak yang pesan," ujar Lutfi, Rabu (30/11/2016).

Sebelum membuat diorama, Lutfi berburu foto rumah adat di berbagai daerah di Pati. Setelah mendapatkan foto, dia mengumpulkan ranting kayu yang masih bagus, terutama kayu jati.

Kayu bekas itu dibentuk, diukir menyesuaikan rumah adat yang diperolehnya dari hunting foto. Semua potongan kayu disatukan menggunakan lem. Setelah itu, miniatur diplitur supaya lebih cantik, awet dan indah.Hasil kerajinan tangan Lutfi dipajang di berbagai pameran di kota-kota besar, seperti Semarang, Magelang, Yogyakarta, dan daerah-daerah lainnya di Jawa Tengah. Satu miniatur dibanderol dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu, menyesuaikan ukuran dan tingkat kerumitan.Baca juga : Warga Sukoharjo Manfaatkan Kayu Bekas jadi Miniatur Rumah Adat PatiEditor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler