Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Bahkan, warganya diakui tidak mempersoalkan masalah keyakinan di tengah-tengah kehidupan Desa Jrahi yang serba majemuk. Keyakinan dianggap menjadi persoalan individu yang tidak perlu dipertentangkan di tengah publik.

Di Jrahi, ada tiga agama yang berkembang dan hidup berdampingan. 74 persen penduduk Jrahi menganut agama Islam, 15 persen Kristen, dan 11 persen memeluk Buddha. Selain itu, ada sejumlah kelompok penganut agama lokal Jawa, seperti Sapta Dharma.

"Di sini, tidak ada yang mikir masalah agama ketika berbaur dengan masyarakat. Sebab, prinsip penduduk Jrahi adalah kerukunan, toleransi, persaudaraan antarsesama manusia, dan sesama bangsa yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," ujar Juremi, Sekretaris Desa Jrahi.

Pada saat malam takbir, misalnya. Semua penduduk Jrahi lintas iman merayakan gema takbir keliling bersama. Begitu juga saat hajatan, semua warga lintas iman ikut guyub rukun mengikuti tradisi hajatan bersama. Ketika arisan, warga berpindah dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah lainnya, seperti masjid, musala, gereja atau vihara.Umat nonmuslim juga menyediakan jajanan khas Lebaran ketika umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri. Bahkan, umat nonmuslim ikut memberikan angpao atau wisit kepada anak-anak ketika Hari Raya Idul Fitri. Begitu juga sebaliknya. Tradisi toleransi di Desa Jrahi tersebut berlangsung sangat lama.Kerukunan sosial di Desa Jrahi juga bisa dilihat dari tempat pemakaman umum (TPU). Di sana, tidak ada pembedaan antara makam umat Muslim, Kristen, Buddha atau aliran kepercayaan lokal. Warga Jrahi yang meninggal dunia dimakamkan di TPU yang sama.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler