Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Kondisi itu dikeluhkan Suparno, salah satu petani kencur asal Desa Selorejo, Kecamatan Gembong, Pati. Kondisi cuaca dengan hujan intensitas tinggi dibarengi panas yang tidak menentu mengakibatkan empon-empon kencur mengalami pembusukan.
Hal itu terlihat dari daun tanaman kencur yang menguning, layu dan mati. "Banyak daun kencur yang menguning, layu dan mati. Itu menjadi pertanda kencurnya membusuk akibat terlalu banyak air dalam tanah," ungkap Suparno, Sabtu (21/1/2017).
Padahal, harga kencur saat ini diakui tengah meroket. Namun, dia harus gigit jari karena tidak bisa menikmati panen kencur dalam jumlah yang banyak di tengah harga kencur yang tinggi di pasaran.
"Masih bisa panen, tapi tidak bisa sebanyak biasanya. Terhitung rugi, karena biasanya panennya bisa optimal tapi sekarang sedikit. Namun, kerugian secara finansial tidak. Hanya saja, rugi tenaga dan perawatan," tuturnya.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



