Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dia menuturkan, industri kuningan mengalami kejayaan sekitar 1990 sampai 1995. Saat itu, pengrajin kuningan mencapai sekitar 600 orang. Pada saat krisis moneter melanda, industri kuningan mulai jatuh dengan pengrajin yang masih bertahan sekitar 400 orang.

Kini, sejumlah pengrajin kuningan masih tetap bertahan di tengah serangan badai ekonomi yang semakin sulit. "Saya kurang begitu tahu jumlah yang pasti, tetapi kalau ditaksir, masih ada sekitar seratus pengusaha yang masih tetap bertahan," ujar Sutrisno.

Menurutnya, kondisi ekonomi di Indonesia saat ini mengalami kelesuan. Kondisi tersebut diakui berpengaruh pada industri kuningan di Juwana. Betapa tidak, pasar menuntut harga produk kuningan semurah mungkin, sedangkan biaya produksi semakin mahal.

"Kondisi itu kan tidak nyambung. Biaya produksi semakin mahal, sedangkan pembeli mintanya murah. Kondisi ekonomi di Indonesia yang sulit membuat banyak perusahaan kuningan di Juwana yang tutup, meski masih ada yang tetap bertahan sampai sekarang," keluh Sutrisno.

Hal yang sama disampaikan Triyoga Septyantoro, putra bungsu pemilik Sampurna Kuningan Juwana. Kondisi ekonomi yang sulit diakui berpengaruh pada industri kuningan di Juwana. Namun, dia bersyukur karena usahanya masih bisa bertahan sampai sekarang.
Sebagian besar pemesan berasal dari Jakarta dan Bali. Biasanya, buyer di Jakarta dan Bali akan mengekspornya ke luar negeri. Karenanya, produksi dilakukan bila ada pemesan.Satu lagi penopang ekonomi kerakyatan dari Juwana yang masih tetap bertahan, yakni Batik Bakaran. Saat ini, ada 22 pengusaha batik bakaran yang tersebar di Desa Bakaran Wetan dan Kulon. Mereka memberdayakan ratusan pengrajin yang sebagian besar dari kalangan ibu-ibu paruh baya."Aman-aman saja. Pesanan masih banyak seperti biasanya. Terlebih, Pemkab Pati saat ini menggunakan batik bakaran, sehingga ikut menambah pesanan batik Bakaran. Saya lebih mengandalkan penghasilan dari pesanan, ketimbang beli satuan," tutur Ibu Bukhori, pemilik batik Bakaran Tjokro.Sesekali, pengunjung dari luar kota datang ke tempatnya untuk melihat produksi batik bakaran, kemudian membelinya dalam jumlah yang tidak banyak, satu hingga tiga kain. Dia berharap, eksistensi batik Bakaran sebagai penopang ekonomi rakyat terus bertahan sampai nanti.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler