Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


"Kebetulan saya sedang ada tugas di Kudus. Dapat kabar kalau ada salah satu teman yang ikut 'nyemen', sesuai koordinasi dari kantor, saya sampai di rumah duka sekitar pukul 15.15 WIB," ujar Wahyuni kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, tragedi Patmi menjadi potret perempuan yang berupaya memperjuangkan hak-hak asasinya. Patmi ingin memastikan bahwa lingkungan harus terjaga dengan baik untuk anak cucunya. Aksi itu sering dilakukan Patmi.

"Aksi untuk mengecor kaki sebagai suatu gambaran, jalan yang ditempuh memang seperti itu. Sebetulnya, aksi itu tidak dilakukan bila direspons pemerintah dengan baik," tuturnya.

Baca juga : Tiba di Pati, Jenazah Patmi Langsung Dikebumikan Malam HariKarena itu, ia berharap agar negara hadir dan mendengarkan suara para perempuan yang ingin lingkungannya terjaga dari eksploitasi pabrik semen. Negara diharapkan hadir sehingga tidak ada Patmi-Patmi lainnya di masa mendatang.Menurutnya, perjuangan Patmi menjadi salah satu potret perjuangan perempuan yang ingin lingkungannya tidak rusak, karena memikirkan anak cucunya di masa mendatang. "Beliau-beliau ini yakin sekali bahwa kerusakan lingkungan tidak tergantikan. Saya justru banyak belajar dari mereka akan perjuangan para perempuan," tandasnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler