Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ada tiga makam yang berada di dalam kompleks bangunan bercat hijau dengan keramik hijau. Bagian bawah nisan makam dicat hitam, atasnya putih dengan dibungkus kain mori putih pada kedua penanda pusara.

Pegiat sejarah Pati, Sugiyono mengungkapkan, Sunan Pati bernama Ali Nurul Yaqin, putra Abdullah Nurul Yaqin dan cucu Mohammad Nurul Yaqin. Dalam literasi sejarah, Ali Nurul Yaqin dikenal sebagai Sunan Ngerang ketiga, yaitu cucu dari Sunan Ngerang pertama.

Sunan Ngerang ketiga itulah yang melahirkan Ki Ageng Penjawi, tokoh legendaris asal Kadipaten Pati. Dalam dunia sejarah versi Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Penjawi dikenal sebagai pendekar "tiga serangkai" bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani.

"Setelah Ki Penjawi dewasa dan cukup umur, beliau diangkat menjadi penguasa Kadipaten Pati, sebuah tanah merdeka, berdiri sendiri setelah melepaskan diri dari Kerajaan Pajang pimpinan Joko Tingkir," ungkap Sugiyono saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Jumat (28/4/2017).
Saat memimpin Pati, Ki Penjawi menempatkan ayahnya, Sunan Pati menjadi imam atau sering disebut panotogomo, yang berarti penata agama. Sementara Ki Penjawi, putranya sebagai panotogoro, penata negara."Konsep kenegaraan seperti ini sama yang diterapkan Kesultanan Demak, sejak Bupati Pati pertama bernama Kayu Bralit. Dalam sistem kesultanan, ada yang namanya panotogomo dan panotogoro. Ada semacam pimpinan yang khusus menata agama dan negara," imbuhnya.Ditanya soal parameter sejarah yang digunakan, Sugiyono mengaku mendapatkan dari sumber sejarah seperti Suluk Walisongo, catatan De Graaf, serta metahistoris. Menurutnya, metode metahistoris diakui sangat penting karena berfungsi sebagai penunjuk untuk menelusuri jejak sejarah.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler