Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Sumber itu ia peroleh dari literasi sejarah Serat Walisongo dan catatan De Graaf. Dia bersama pegiat sejarah lain menggunakan metode metahistoris yang dijadikan petunjuk untuk menemukan bukti-bukti sejarah.

"Sunan Pati atau Ali Nurul Yaqin, cucu Sunan Ngerang merupakan bupati ke-7, kemudian dilanjutkan putranya, Andum Jawi yang akrab disebut babad sebagai Ki Penjawi. Ini terjadi sekitar abad ke-16, di mana Gambiran sebagai ibukotanya," ungkap Sugiyono kepada MuriaNewsCom, Jumat (28/4/2017).

Kala itu, Gambiran adalah sebuah bagian pulau atau semenanjung Muria. Pulau Muria dan Jawa adalah dua wilayah yang berbeda, karena dipisahkan selat atau laut Jawa, sebelum mengalami sedimentasi dan menyatu seperti sekarang ini.

Baca juga : Makam Sunan Pati di Desa Metaraman jadi Sorotan Sejarawan

"Kenapa Gambiran? Karena waktu itu Gambiran merupakan bibir pantai selat Patyam, di mana seluruh transportasi melalui jalur air. Ejaan Patyam disebut dalam sejumlah naskah, istilah sekarang dikenal dengan nama Pati Ayam," tuturnya.
"Kenapa Gambiran? Karena waktu itu Gambiran merupakan bibir pantai selat Patyam, di mana seluruh transportasi melalui jalur air. Ejaan Patyam disebut dalam sejumlah naskah, istilah sekarang dikenal dengan nama Pati Ayam," tuturnya.Menurutnya, Sunan Ngerang hanya ada satu, yaitu Mohammad Nurul Yaqin. Sebab, anak dan cucu-cucunya sudah tidak tinggal di Ngerang lagi, tetapi di Pati. Trah Ngerang inilah yang menjadi penguasa Pati, dari Abdullah Nurul Yaqin, Ali Nurul Yaqin, Ki Penjawi dan Wasis Kusumo.Wasis Kusumo yang bernama asli Raden Siddieq Nurul Yaqin merupakan tokoh legendaris, di mana orang Pati modern lebih akrab menyebutnya Wasis Joyokusumo. Sementara kakaknya, Waskita Jawi diperistri Panembahan Senopati, pendiri Mataram yang saat ini menjadi Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.Editor : Kholistiono 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler