Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kondisi itu berlangsung sekitar abad ke-16, di mana kekuasaan ada pada tangan Raden Siddieq Nurul Yaqin atau dikenal dengan Wasis Jayakusuma, putra Ki Ageng Penjawi. Mbah Wasis, begitu pegiat sejarah Pati memanggilnya, disebut-sebut sebagai raja pertama dan terakhir kekuasaan Pati yang membentang dari Kediri sampai Salatiga.

Hal itu disebabkan adanya perang saudara dengan kerajaan baru, yaitu Mataram. Kerajaan Mataram dibangun Danang Sutawijaya yang tak lain kakak ipar Wasis atau menantu Ki Ageng Penjawi, karena dia menikah dengan Waskita Jawi.

Salah satu pegiat sejarah Pati, Sugiono mengatakan, Pati yang membentang dari Kediri sampai Salatiga itu bernama Bumicha Patyamcha. Wilayah yang membentang luas itu berakhir, setelah adanya perang saudara dengan Mataram yang berawal dari perebutan kekuasaan.

"Kemungkinan, Bumicha Patyamcha berasal dari bahasa Pali yang berarti Bumi Pati. Sumber perpecahan Pati karena perebutan wilayah Kediri dengan kerajaan saudaranya sendiri, Mataram," ungkap Sugiono, Sabtu (29/4/2017).Menurut sumber yang ia peroleh, kekalahan Pati bukan persoalan kekuatan, karena Pati waktu itu punya pasukan dan bala tentara yang kuat hingga menundukkan Madiun dan melepaskan diri dari kekuasaan Pajang pimpinan Joko Tingkir. "Kekalahan Pati karena lemahnya intelijen yang tidak bisa mendeteksi bahwa Mataram bersekutu dengan Portugis," tutur Sugiono.Dalam konteks ini, dia mendapatkan sumber literasi dari Babad Kabanaran yang didukung dengan metode metahistoris. Sejarah itu tidak terdapat dalam kisah babad atau cerita tutur, karena Pati dalam kekuasaan kolonialisme setelah itu. Akibatnya, fakta-fakta sejarah tentang Pati banyak dikaburkan, bahkan dikubur pihak kolonialisme.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler