Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Tahun ini, tradisi menabuh bedug berulang-ulang itu diperingati di Alun-alun Desa Prawoto. Tabuh bedug dandang menjadi pertanda dimulainya bulan suci Ramadan.

Official Gusdurian Prawoto, Tri Yono mengungkapkan, bedug dandang memiliki perbedaan dengan tradisi dandangan di Kudus atau dugderan di Semarang. Bedug dandang Prawoto menggunakan bedug tajidor dengan alunan khas bedug masa lalu.

Alunan bedug kemudian mendapatkan sentuhan improvisasi khas tradisional seperti lagu Astagfirullah, Syiir Tanpo Waton, Kereta Jawa, dan sebagainya. Event itu terasa meriah, karena dikemas dalam festival budaya Ramadan seperti panggung Ramadan, lomba tongtek, buka bersama, parade bedug dan takbir akbar.

"Bedug dandang bertujuan untuk menghidupkan budaya yang ada di Desa Prawoto. Sebab, hampir 25 tahun ini budaya itu sempat ditinggalkan masyarakat," ujar Tri Yono, Sabtu (27/5/2017).

Menurutnya, budaya menjadi sumber kekuatan untuk menggerakkan kebersamaan masyarakat sehingga tercipta kondisi sosial dan religiusitas yang baik. Terlebih, tradisi bedug dandang ternyata berpengaruh pada sektor ekonomi warga.Salah satu yang unik dari serangkaian festival penyambut Ramadan di Desa Prawoto, di antaranya adanya payung warna-warni dan gapura dari keranjang buah. Payung dipasang di kawasan pinggir alun-alun yang memberikan satu filosofi penting bagi kerukunan umat beragama dan berbangsa."Payung warna-warni menjadi simbol keberagaman, karena pada zaman dulu Alun-alun Prawoto menjadi lokasi pertemuan dari berbagai negara dan ras. Sedangkan gapura dari keranjang buah srikaya merupakan khas buah musiman di Prawoto, dulu tumbuh subur di hutan bambu," tambahnya.Gapura keranjang secara filosofis bermakna moto iro. Artinya, masyarakat diharapkan bisa saling membuka mata secara utuh. Sebab, dengan mata, seseorang bisa melihat budaya yang menjadi senjata bagi leluhur Nusantara untuk membangun peradaban manusia yang unggul dan berkepribadian.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler