Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Firman menilai, krisis IKM tapioka di Pati disebabkan impor di tengah ketersediaan tapioka lokal yang melimpah. Akibatnya, harga singkong turun drastis dan berimbas pada nasib para petani.

"IKM tapioka di Pati dalam posisi yang sangat memprihatinkan. Hampir semua produk-produk pertanian kita mengalami tantangan berat karena adanya impor. Padahal, produksi tapioka di Pati mengalami surplus," ucap Firman, Senin (17/7/2017).

Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI ini menyebutkan, masalah utama pelaku IKM tapioka di Pati adalah produksi yang meningkat, tetapi tidak ada serapan. Ketimpangan itu semakin terasa saat data kebutuhan tapioka nasional cukup besar, pada saat yang sama, serapan lokal menurun.

Hal itu disebabkan kecenderungan pabrik-pabrik besar mengedepankan impor untuk bahan baku tapioka. Bila kondisi itu dibiarkan, nasib petani singkong di Pati menjadi taruhannya.

Kondisi itu menurut Firman tidak sejalan dengan konsep pemerintah dalam menarik investasi untuk mengembangkan usaha. Sebab, investasi dan usaha harus berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat, termasuk penggunaan bahan baku lokal.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, Pedagangan dan Perindustrian. Atas surat Pak Wapres Jusuf Kalla, saya meminta Pak Menteri untuk hadir ke Pati meninjau langsung kondisi di lapangan dalam waktu dekat. Pak Menteri sangat responsif menanggapi persoalan ini," kata Firman.Sementara itu, salah satu anggota paguyuban IKM tapioka, Mashuri Cahyadi menjelaskan, minimnya serapan tapioka lokal yang membuat harga singkong anjlok menyebabkan para petani enggan memanen singkong. Mereka lebih memilih tidak panen ketimbang tekor.Soal kualitas singkong yang dianggap Staf Khusus Wapres RI Michiko Nachi tidak memenuhi spesifikasi, Mashuri menepisnya. Pasalnya, pelaku IKM di Pati, terutama Ngemplak sudah menerapkan standar internasional ISO."Ada sejumlah industri menengah yang beli tapioka Ngemplak dengan standar ISO. Artinya masalah spek sudah masuk. Kalau perusahaan besar beralasan tidak sesuai spek itu tidak rasional, karena sama-sama pake standar ISO," tutur Mashuri.Karena itu, impor yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar dianggap sebagai sebuah bencana besar bagi para petani. Bagi dia, impor datang bukan untuk memenuhi kekurangan dalam negeri, tapi untuk membunuh produk tapioka lokal.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler