Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Lima desa yang memiliki lahan tidur, antara lain Desa Kasiyan, Gadudero, Wotan dan Baturejo di Kecamatan Sukolilo, serta Desa Srikaton di Kecamatan Kayen.

Sepanjang tahun, lahan tidur tidak bisa ditanami padi. Dalam setahun, lahan tidur hanya dimanfaatkan untuk menanam palawija.

Bahkan, ada sejumlah titik yang tidak bisa ditanami apapun, baik padi maupun palawija. Lahan tidur akhirnya tidak bisa dimanfaatkan untuk menunjang produktivitas pertanian di Pati.

"Di Desa Kasiyan sendiri ada sekitar 150 hektare lahan tidur. Ada yang bisa ditanami palawija sekali dalam setahun, ada pula yang tidak bisa ditanami apapun dan terbengkalai," ungkap Kepala Desa Kasiyan, Rumaji, Rabu (18/10/2017).

Dia sendiri mengaku, lahan bengkok yang ia kelola seluas 14 hektare, hanya 5,5 hektare yang produktif dan bisa ditanami padi. Karena itu, dia berharap pemerintah bisa memberikan solusi terkait dengan masalah lahan tidur di kawasan Pati selatan.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian Pati Muchtar Efendi mengatakan, sejumlah lahan pertanian di Pati selatan memang terkendala faktor geografis. Banyak lahan cekungan yang banjir saat musim penghujan.Hal tersebut yang menyebabkan lahan tidak bisa ditanami secara maksimal. Namun, dia memastikan bila lahan tersebut bukan lahan tidur, karena masih bisa ditanami palawija kendati tidak maksimal.Dia menyarankan agar kawasan tersebut dibuat sudetan untuk normalisasi. Dengan demikian, air yang biasa menggenang dapat mengalir."Kami akan berkoordinasi dengan lintas sektor untuk membuat sudetan, sehingga kalau ada air yang menggenang bisa mengalir. Sebab, masalah utama pada lahan tidur karena kondisi geografis yang cekung dan kerap digenangi air," pungkasnya.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler