Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Kepala Desa Beketel, Sutikno mengatakan, kesenian tradisional tayub sengaja dijadikan sebagai ajang lomba HUT RI ke-71 untuk melestarikan keberadaan tayub yang mulai hilang tergerus pusaran zaman. "Pemuda saat ini sudah mulai tidak mengenal kesenian tayub. Karena itu, lomba ini sekaligus mengenalkan tayub sebagai budaya lokal," ucap Sutikno.
Menurutnya, tari tayub memiliki muatan positif sebagai tari pergaulan yang bisa mempererat persatuan masyarakat desa. Mereka bisa bergembira ria dalam satu panggung, menari dengan diiringi gending-gending Jawa. Warga pun diharapkan bisa guyub rukun dalam kegembiraan di tengah Hari Kemerdekaan.
"Sebagai tari pergaulan, tayub sesuai dengan nilai Pancasila, terutama sila ketiga. Sila itu menyebutkan Persatuan Indonesia. Di tingkat lokal, terutama desa, tarian tayub bisa mempersatukan warga, dari pemuda hingga orang tua," kata Sutikno.
Dengan begitu, keberadaan tayub dinilai sangat relevan untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Warga semakin guyub menjaga persatuan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada level lokal. Pembangunan desa pun diharapkan bisa kian meningkat dengan adanya tari tayub.
Editor : Kholistiono



