Melihat Prosesi Unik pada Sedekah Bumi di Gunungwungkal Pati
Lismanto
Jumat, 19 Agustus 2016 20:01:14
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Tradisi sedekah bumi bagi warga setempat diyakini mengandung unsur tuah dan memiliki kesakralan tersendiri. Karena itu, warga di lereng Pegunungan Muria bagian utara ini selalu mengadakan ritual prosesi setiap tahun, lebih dari satu abad lamanya.
"Tradisi sedekah bumi untuk bersih desa di sini sudah lama dilakukan nenek moyang. Sejak 1874, penduduk setempat sampai sekarang masih menggelar rangkaian upacara budaya. Semuanya menjadi cara bagi kami untuk bersyukur atas berkah yang diberikan Tuhan berupa keselamatan dan kesejahteraan," ujar Kades Gunungwungkal Surasmin, Jumat (19/8/2016).
Dalam prosesi sedekah bumi, warga menempatkan hasil bumi yang diletakkan dalam tempat berbentuk semacam rumah, disebut dengan julen. Julen menjadi salah satu syarat untuk mengarak hasil bumi keliling desa.
Uniknya, sebelum diarak keliling desa, Julen diarak mengelilingi pasar desa selama tiga kali. Julen diarak bersama warga yang dipimpin kades dan sesepuh desa. Pasar menjadi simbol perekonomian lokal, sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan dan perlu diruwat saat sedekah bumi.
Uniknya, sebelum diarak keliling desa, Julen diarak mengelilingi pasar desa selama tiga kali. Julen diarak bersama warga yang dipimpin kades dan sesepuh desa. Pasar menjadi simbol perekonomian lokal, sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan dan perlu diruwat saat sedekah bumi.
Editor : Kholistiono



