Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Mawar (bukan nama sebenarnya), salah satu PSK berusia 43 tahun asal Kecamatan Gunungwungkal yang diciduk polisi membeberkan fenomena prostitusi yang ada di desa tersebut. Dia mengaku, rumah bordil milik Marsini hanya menyediakan tempat saja.

Sementara itu, tempat transaksi dilakukan di warung kopi depan rumah Marsini. Pria hidung belang yang ingin mencari kenikmatan di rumah bordil tersebut biasanya harus singgah di warung kopi.

Pria hidung belang yang singgah dikenakan biaya parkir Rp 5 ribu dan retribusi Rp 5 ribu. "Pelanggan yang ingin ngamar harus membeli makanan di warung itu. Kalau tidak, penjual kopi bisa marah. Sekali jajan di sana, setidaknya habis Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu," ungkap Mawar.
Mawar sendiri baru beberapa kali dipakai pria hidung belang di sana. Namun, Mawar mengaku tidak mangkal di warung kopi. Dia biasa dipesan pria hidung belang melalui pesan singkat.Kapolsek Margoyoso AKP Sugino menuturkan, penutupan rumah bordil menjadi bagian dari operasi penyakit masyarakat. Dia berpendapat, lokalisasi besar biasanya muncul dari tempat-tempat mesum yang masih kecil. Karena itu, penutupan rumah bordil diharapkan bisa mengantisipasi kemungkinan merebaknya tempat mesum di sekitarnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler