Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Banyak kisah di dalam babad tersebut yang tidak mencantumkan tahun dan metode riset yang digunakan, sehingga fungsinya sebatas karya sastra. Namun, Babad Pati dan cerita dalam ketoprak selama ini terlanjur diyakini masyarakat sebagai sejarah.

Karena itu, sejumlah pegiat sejarah berencana akan melakukan rekonstruksi ulang. Mereka akan merekonstruksi, menggali kebenaran sejarah dengan perbandingan data-data yang didapatkan.

"Meski tidak seratus persen, tetapi setidaknya kami berupaya mengumpulkan data sejarah, mulai dari babad, cerita tutur, ketoprak, hingga naskah-naskah dari berbagai sumber, baik naskah Jawa, Cina, Eropa, Timur Tengah, maupun India. Semua akan kita perbandingkan," kata Joko Wahyono, pegiat sejarah Pati, Senin (10/10/2016).
Menurutnya, sejarah sangat penting digali karena bisa menjadi sumber falsafah, tradisi, dan budaya bagi penduduknya. Falsafah itu yang kemudian bisa dijadikan sebagai pijakan untuk menjadi pribadi yang besar.Karena itu, kesalahan sejarah bisa berdampak buruk pada perkembangan masyarakat yang meyakininya. "Betul apa yang dikatakan Bung Karno, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ini yang menjadi semangat bagi kami untuk merekonstruksi sejarah Pati," pungkasnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler