Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Sekretaris Dewan Kesenian Daerah Jepra Rhobi Shani mengatakan, sebanyak 30 penari anak-anak dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri Jepara dan seniman muda mementaskan tarian tersebut. 

"Tema besar Jateng Fair tahun ini adalah Karimunjawa, oleh sebab itu kami mengangkat tradisi lomban atau larungan," katanya, Jumat (18/7/2017).

Ia menyebut, penyajian tarian tersebut bertujuan agar tradisi larungan di pesisir Jepara dikenal oleh masyarakat secara luas. Hal itu mengingat, tradisi itu juga menjadi magnet bagi pariwisata Kabupaten Jepara, karena menyedot perhatian banyak masyarakat. 

Rhobi mengatakan, tradisi larungan di Jepara tak hanya satu macam. Hal itu dilihat dari jenis sajian yang dilarung ke tengah laut. 

"Beda-beda yang dilarung, misalnya di Kelurahan Ujungbatu Kecamatan Jepara yang dilarung adalah kepala kerbau. Kalau di Karimunjawa kepala kambing, sedangkan di Desa Bondo, Kecamantan Bangsri yang dilarung adalah gunungan hasil bumi dan laut," tambahnya. Adapun, prosesi larungan atau lomban biasanya digelar seminggu seusai merayakan Idul Fitri. Pada hari tersebut, masyarakat nelayan berbondong-bondong mengikuti ajang larungan. Oleh Pemkab Jepara, prosesi itu pun dibuat sebagai atraksi wisata. Bahkan Bupati dan pejabat di kabupaten tersebut biasanya turut ambil bagian. Acara tersebut bertujuan untuk mensyukuri berkat illahi yang telah didapat selama setahun melaut. Dengan larungan, masyarakat nelayan berharap hasil yang diperoleh setahun kedepan makin melimpah. "Nelayan di Jepara menyadari laut merupakan sumber kehidupan dan ekonomi, maka anugerah tersebut wajib dijaga dan disyukuri," pungkas Sutradara pementasan tersebut Heru Susilo. Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler