MURIANEWS, Jepara – Dua musisi lokal Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah merilis album perdananya. Album tersebut dirilis dalam bentuk fisik. Keputusan itu terbilang berani di tengah era digital saat ini.
Kedua
musisi tersebut yakni, Jokkivolka dan Yeef. Menurut keduanya, era digital telah mengubah gaya menikmati musik. Kemudahan mendengarkan musik lewat platform digitalpun mudah didapatkan.
Meski begitu, lanjutnya, masih banyak juga masyarakat yang menikmati musik secara konfensional. Karena itulah, mereka berani merilis album dalam bentuk fisik di era serba digital ini.
Yeef merilis albumnya lebih dulu bertajuk Renjana. Album berbentuk CD itu dirilisnya pada pertengahan 2021. Sementara Jokkivolka merilis Preliminer berbentuk
kaset pita pada akhir 2021.
“Memang eranya sudah digital. Tapi saya tetap ingin menyuguhkan karya dalam bentuk fisik. Untuk memuaskan penikmat musik saya. Album fisik bisa disentuh dan dikoleksi. Ini yang tidak bisa digantikan oleh digital,” kata Jokkivolka, kemarin.
Baca juga: Ini Sejarah Hari Musik Nasional yang Diperingati Tiap 9 MaretKeputusannya memilih album fisik karena saat remaja ia sering membeli kaset dari band-band idolanya.
“Membaca ‘thank to’ di rilisan fisik saja saat itu sudah senang sekali. Untuk itu, saya ingin siapapun yang memiliki kaset album saya, bisa merasakan apa yang rasakan dulu,” kata solois bernama lengkap Okki Novianto ini.
Pria asal Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara itu, yakin setiap musik yang dirilis dalam bentuk fisik masih ada peminatnya. Meski jumlahnya terbatas. Untuk itu, di album perdana yang berisi materi 13 lagu, ia hanya menjual 32 kaset.
Pria asal Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara itu, yakin setiap musik yang dirilis dalam bentuk fisik masih ada peminatnya. Meski jumlahnya terbatas. Untuk itu, di album perdana yang berisi materi 13 lagu, ia hanya menjual 32 kaset.Ungkapan senada dilontarkan Yeef. Ia juga mencetak albumnya secara terbatas. Hanya, 50 keping CD saja.Lelaki bernama lengkap Yanuar Fikri itu mengakui, minat masyarakat pada album musik berbentuk fisik sudah berkurang. Namun, dengan album fisik itu ia ingin membuktikan telah memiliki karya.”Rasanya, plong!” kata solois asal Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan ini.Demi menelurkan karyanya itu, Yeef rela merogoh tabungan pribadinya. Butuh delapan bulan untuk mengerjakan album perdananya itu agar selesai sesuai rencananya.Kendati menelurkan album musiknya dalam bentuk fisik, Yeef tetap memanfaatkan layanan musik digital. Karyanya pun telah hadir di sejumlah platform digital.Layanan musik digital itu sangat membantu memperluas jangkauan pendengar musiknya. Itu juga diamini Jokkivolka. Pemutar musik digital memberikan kemudahan bagi keduanya. Reporter: Faqih Mansur HidayatEditor: Zulkifli Fahmi
[caption id="attachment_277078" align="alignleft" width="1024"]

Jokkivolka dan Yeef, Dua Musisi Lokal Jepara. (MURIANEWS/dok Pribadi)[/caption]
MURIANEWS, Jepara – Dua musisi lokal Kabupaten
Jepara, Jawa Tengah merilis album perdananya. Album tersebut dirilis dalam bentuk fisik. Keputusan itu terbilang berani di tengah era digital saat ini.
Kedua
musisi tersebut yakni, Jokkivolka dan Yeef. Menurut keduanya, era digital telah mengubah gaya menikmati musik. Kemudahan mendengarkan musik lewat platform digitalpun mudah didapatkan.
Meski begitu, lanjutnya, masih banyak juga masyarakat yang menikmati musik secara konfensional. Karena itulah, mereka berani merilis album dalam bentuk fisik di era serba digital ini.
Yeef merilis albumnya lebih dulu bertajuk Renjana. Album berbentuk CD itu dirilisnya pada pertengahan 2021. Sementara Jokkivolka merilis Preliminer berbentuk
kaset pita pada akhir 2021.
“Memang eranya sudah digital. Tapi saya tetap ingin menyuguhkan karya dalam bentuk fisik. Untuk memuaskan penikmat musik saya. Album fisik bisa disentuh dan dikoleksi. Ini yang tidak bisa digantikan oleh digital,” kata Jokkivolka, kemarin.
Baca juga: Ini Sejarah Hari Musik Nasional yang Diperingati Tiap 9 Maret
Keputusannya memilih album fisik karena saat remaja ia sering membeli kaset dari band-band idolanya.
“Membaca ‘thank to’ di rilisan fisik saja saat itu sudah senang sekali. Untuk itu, saya ingin siapapun yang memiliki kaset album saya, bisa merasakan apa yang rasakan dulu,” kata solois bernama lengkap Okki Novianto ini.
Pria asal Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara itu, yakin setiap musik yang dirilis dalam bentuk fisik masih ada peminatnya. Meski jumlahnya terbatas. Untuk itu, di album perdana yang berisi materi 13 lagu, ia hanya menjual 32 kaset.
Ungkapan senada dilontarkan Yeef. Ia juga mencetak albumnya secara terbatas. Hanya, 50 keping CD saja.
Lelaki bernama lengkap Yanuar Fikri itu mengakui, minat masyarakat pada album musik berbentuk fisik sudah berkurang. Namun, dengan album fisik itu ia ingin membuktikan telah memiliki karya.
”Rasanya, plong!” kata solois asal Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamatan ini.
Demi menelurkan karyanya itu, Yeef rela merogoh tabungan pribadinya. Butuh delapan bulan untuk mengerjakan album perdananya itu agar selesai sesuai rencananya.
Kendati menelurkan album musiknya dalam bentuk fisik, Yeef tetap memanfaatkan layanan musik digital. Karyanya pun telah hadir di sejumlah platform digital.
Layanan musik digital itu sangat membantu memperluas jangkauan pendengar musiknya. Itu juga diamini Jokkivolka. Pemutar musik digital memberikan kemudahan bagi keduanya.
Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi