Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Anis Sholeh Ba’asyin mengutarakan hal tersebut saat digelarnya Suluk Maleman pada Sabtu (17/12/2022) malam WIB. Dikatakannya, kepekaan itu merupakan anugerah dari Allah.

“Ada banyak tanda misalkan saat akan ada bencana seperti gunung meletus, tsunami maupun yang lainnya. Bagi orang Jawa, ini dikenal sebagai ilmu titen, ilmu yang dibangun berdasar statistik kejadian yang berulang,” ujarnya.

Hanya saja kemampuan dalam membaca isyarat tersebut saat ini mulai jarang yang memiliki. Keberadaan ilmu titen dalam membaca tanda alam dianggap kalah dari ilmu lain yang lebih modern.

“Saat ini kian tergerus. Padahal tekhnologi modern pun tak mampu menjamin secara pasti,” terangnya.

Kepekaan mengenali tanda dikatakannya sangat penting. Kedekatan pada Allah diakuinya dapat membuat kepekaan lebih tinggi. Begitu pula peka dalam mengelola tubuh maka akan berbanding lurus dengan pengelolaan terhadap alam.

“Jika kita dikatakan sering mengalami bencana karena berada di daerah rawan, padahal organ tubuh kita juga cukup rawan. Namun hal itu akan menjadi baik jika mampu dikelola dengan baik. Begitu juga potensi kerawanan akan kondisi alam,” tambahnya.

Dalam ajaran Jawa ada ajaran terkait tiga tingkatan isyarat. Yakni, dupak bujang, semu mantri, dan esem bupati. Dupak bujang adalah penyampaian pesan secara lugas. Sementara semu mantri menggunakan simbol-simbol meski masih bisa terbaca.

“Sedangkan esem bupati itu lebih samar lagi. Lebih penuh simbol dan makna, yang untuk memahaminya butuh kejernihan” ujarnya.

BACA JUGA: Suluk Maleman: Maulid Momentum Meneladani Rasulullah

Sementara itu, Muhajir Arrosyid, dosen Upgris Semarang yang malam itu menjadi salah seorang narasumber, mengatakan bahwa suasana yang jernih akan menumbuhkan kepekaan yang lebih tinggi. Seperti halnya saat orang tengah berpuasa.“Orang Jawa dulu banyak memahami ilmu titen. Seperti saat gunung meletus, biasanya akan ada burung tertentu yang terbang berputar,” tambahnya.Budi Maryono, budayawan yang malam itu juga menjadi salah satu narasumber, menyebut bahwa kepekaan dalam membaca tanda itu sekarang ini telah banyak dikonversi menjadi pengetahuan. Kemudian pengetahuan dikonversi jadi tekhnologi.“Sedangkan kita terlalu bergantung pada tekhnologi hingga membuat kepekaan kita melemah. Ada banyak ilmu titen yang bisa membantu baik dalam pertanian, mitigasi bencana, maupun penanda lainnya; tapi sekarang sudah banyak yang melupakannya karena ketergantungan pada tekhnologi,” ujarnya.BACA JUGA: Suluk Maleman: Surga yang DitelantarkanSeperti anak pelaut saat ini belum tentu lagi bisa memahami ilmu perbintangan maupun arah angin. Padahal hal itu telah dipelajari nenek moyang.“Saat ini yang menjadi PR kita adalah menjaga kedekatan dengan Tuhan serta meningkatkan rasa simpati dan empati terhadap sesuatu diluar kita. Empati itu tidak hanya saat terjadi sesuatu saja. Seperti saat bencana menyumbang logistik,” tambahnya.Namun empati seharusnya dibangun jauh sebelum terjadi sesuatu. Seperti mulai bergerak menanam jika hutan gundul, itu adalah bentuk empati yang lebih hakiki, karena menjaga sesuatu sebelum bencana terjadi.Topik yang dibahas dalam Suluk Maleman edisi ke 132 itu kian meriah dengan pertunjukkan musik dari Sampak GusUran. Meski lokasi acara sempat terendam air hujan, namun hal itu tak menghalangi banyak orang untuk mengikutinya.Editor: Budi Santoso

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler