Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kini berkembang sentra baru, Sentra Industri Kecil Mebel Almari di Dukuh Grobogan, Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan (Disindag) Jepara,  Yoso Suwarno mengatakan, keberadaan produksi almari sebenarnya bukanlah satu-satunya. Mengingat sebelumnya telah juga telah ada di Desa Mulyoharjo dan Desa Bulungan.

Dia berharap keberadaan sentra-sentra bertambah dan berkembang. Karena dengan demikian akan semakin mempermudah pembeli mencari barang serta produksi makin efisien.

“Keberadaan  dan pengembangan sentra-sentra industri yang pada dasarnya merupakan aktualisasi dan optimalisasi bidang perindustrian di Jepara. Yaitu pengembangan sektor-sektor industri potensial,” ujar Yoso, Jumat (12/8/2016).

Tercatat sektor industri pengolahan memberi kontribusi ekonomi lokal sekitar 27,6 persen pada tahun 2014. Sedangkan pada tahun 2016 meningkat menjadi 32 persen lebih dari PDRB Tahun 2016. Industri ini tumbuh seiring dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat yang juga terus meningkat.
“Diharapkan pengrajin tetap dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas. Jika harus bersaing maka bersaing dengan sehat. Karena bagaimanapun dalam pemasaran, barang yang baik dan berkualitas pasti akan disenangi dan terus dicari konsumen. Sebaliknya, barang jelek akan mengecewakan konsumen dan memutus keberlangsungan pemasaran,” jelasnya.Peningkatan sektor ini, juga terjadi pada ekspor hasil olahan kayu furnitur, kerajinan kayu maupun suvenir. Terakhir hingga semester I, akhir juni 2016  mencapai 109,6 juta dolar. Sementara periode yang sama tahun lalu hanya 88,2 Juta dollar.“Harapannya hingga akhir tahun akan terjadi peningkatan hingga dua kali lipat pada akhir tahun. Sehingga jika kurs dolar tetap Rp. 13 ribu, paling tidak ada sekitar 1,4 triliun uang dari hasil penjualan produk olahan kayu,” imbuhnya.Editor : Akrom Hazami 

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler