Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Pasalnya, pesanan melonjak drastis hingga 50%. Umumnya datang luar kota seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bandung. ”Bahkan, ada pesanan yang datang hingga dari Kalimantan sana,” jelas H Yono, salah seorang produsen pisau, di Desa Tenggeles, RT 4/RW 1, Kecamatan Mejobo, Minggu (11/9/2016).

Jenis pisau yang paling banyak dipesan adalah pisau daging. Yono mengatakan, tidak mengetahui kenapa pisau daging banyak dipesan, bahkan meningkat hingga 50%. ”Barangkali menjelang Idul Adha, banyak yang butuh pisau untuk urusan kurban,” katanya.

Untuk harga satu buah pisau daging yang terbuat dari stainless dengan gagang kayu, dijual Yono sebesar Rp 45 ribu. Ini karena pisau daging memang bentuknya lebih besar dari pisau-pisau yang lain.

Yono mengaku mendapatkan bahan baku dari pisau yang dibuatnya itu, dari Bandung dan Jakarta. Tepatnya, dari sisa-sisa produksi perusahaan-perusahaan besar yang ada di sana.

”Kalau untuk kayu gagangnya, itu jenis kayu sonokeling. Saya dapatnya dari Jepara. Memang kayunya saya pilih khusus kayu itu, yang pas dan sesuai dengan pisaunya,” terangnya.Sayangnya, Yono mengaku kewalahan menghadapi banyaknya pesanan yang datang. Bukan karena tidak adanya bahan baku, melainkan minimnya tenaga kerja yang memproduksi pisau.Meski sudah dibantu 20 orang karyawan, namun tetap saja Yono harus menolak sejumlah pesanan yang datang. ”Saya tidak bisa memenuhi semuanya. Karena terbatasnya tenaga kerja. Sulit sekarang mencari tenaga kerja yang benar-benar mau dan bisa membuat pisau. Makanya, beberapa pesanan terpaksa saya tolak,” katanya.Dengan jumlah karyawan yang sebanyak 20 orang itu, Yono menambahkan bisa memproduksi 6.000 pisau per harinya. Bukan hanya jenis pisau daging saja, melainkan juga pisau-pisau yang lain. Harganya juga dipatok mulai Rp 13 ribu hingga Rp 45 ribu.Editor: Merie

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler