Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Beruntung, ada orang-orang dan seniman serta budayawan di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, yang masih peduli terhadap keberlangsungan benda-benda bersejarah itu. Mereka menggagas kegiatan yang diberi nama ”Negeri yang Terlahir Kembali”, yang dilaksanakan berbarengan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016 kemarin.

Selain acara pentas seni yang dilaksanakan di pendapa kecamatan, juga dilaksanakan kirab yang salah satunya membawa benda-benda sejarah, saat RA Kartini dilahirkan dahulu. Kirab diawali dari Balai Desa Pelemkerep, hingga ke kantor kecamatan.

Kang Munif, koordinator kegiatan, mengatakan bahwa bersama-bersama dengan seniman lainnya yang ada di Kecamatan Mayong, pihaknya ingin peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, dijadikan momentum kesadaran bertanah air satu, berkebangsaan yang satu, dan Bahasa Indonesia merupakan alat untuk mendukung persatuan tersebut.

”Kesadaran ini adalah sebuah kelahiran pemikiran akan kebangsaan dan nasionalisme. Pemikiran ini menjadi obor penerang dari kegelapan nasib kelam sebuah bangsa yang ratusan tahun terjajah. Ibu pertiwi yang terkungkung dalam kegelapan adat deskriminasi penjajahan kolonialisme,” tuturnya.

Namun, yang menarik memang adalah benda-benda yang dikirab dalam kegiatan tersebut. Karena selama ini, banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi saat Kartini dilahirkan dahulu.

Menurut salah seorang panitia, Kasturi, benda-benda itu antara lain ranjang tempat Kartini dilahirkan, pilisan atau landasan untuk membuat bedak untuk perempuan yang habis melahirkan, bedak herbal untuk pereda nyeri, kotak popok, lumpang, kastok cermin, kastok tanpa cermin, kap lampu kamar, dan piring kuno. Semuanya berhubungan dengan kelahiran Kartini.
”Ada barang-barang lain seperti biji-bijian, dedaunan, dan rempah-rempah untuk jamu. Serta ada juga benda-benda lainnya. Semuanya berhubungan dengan kelahiran RA Kartini,” katanya.Barang-barang tersebut, menurut Kasturi, sangat berharga serta bernilai sejarah tinggi. Pasalnya, umurnya sudah ratusan tahun. Ditambah lagi, informasi keberadaan barang-barang ini memang tidak banyak diketahui orang. ”Serta penemunya masih dirahasiakan. Hal ini dimaksud untuk menjaga keamanan barang-barang tersebut,” tegasnya.Kegiatan ini sendiri, diikuti oleh mereka para seniman dan masyarakat yang peduli dengan sejarah, yang tergabung dalam komunitas ”Njagong Kabudayan”. Banyak sanggar yang ikut serta di dalamnya. Selain Sanggar BTS, ada juga Sanggar Kidung Suwung, Komunitas Punden, Grup Musik Akustik Santri Jalanan, Kelompok Seni TeRaSS omah, dan Masyarakat Seni Mayong.Usai dikirab, benda-benda itu lantas diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar). Selanjutnya benda-benda itu disimpan di Museum Pesanggrahan Kartini.Yang menyerahkan adalah KRT Siwoyo Hendro Pramono kepada kepala Disbudpar Jepara. KRT Siwoyo sendiri adalah cucu abdi dalem Kawedanan Mayong saat ayah Kartini menjabat wedana di wilayah itu.Editor: Merie

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler