Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

MURIANEWS, Blora- Tradisi Kupatan atau Syawalan, yang biasanya dirayakan pada H+7 Idulfitri membawa berkah bagi penjual janur (daun muda kelapa), di masa pandemi. Beberapa penjual janur di Blora mulai bermunculan di sejumlah pasar tradisional.


Sebagian besar janur diketahui dipasok pedagang dari luar daerah. Hal ini karena di wilayah Blora minim pohon kelapa akibat serangan hama wangwung (kumbang kelapa) sejak puluhan tahun terakhir.

Aminah, salah satu pedagang janur asli Blora mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan janur menjelang Idulfitri 1442 Hijriah dan tradisi kupatan dirinya membeli dari wilayah Kabupaten Rembang dan Cilacap.

“Saya membeli janur dari Rembang dan Cilacap, tapi gak berani banyak, kuatir tidak laku dan layu. Soalnya ini masih pandemi, tidak semua warga butuh janur,” katanya, di Blora, minggu (16/5/2021).

Untuk saat ini, harga eceren janur kelapa di pasar rakyat Sido Makmur Blora pada H+4 Lebaran 2021, satu ikat Rp20 ribu, berisi 50 helai janur.

“Sudah ada warga yang membeli untuk selongsong ketupat dan lepet, sehari rata-rata laku 5 ikat,” kata aminah.

Selain jualan janur, sejumlah penjual menyediakan selongsong ketupat. Seperti halnya Hartini penjual Selonsong ketupat di Blora, mengaku membuat selongsong di tempat jualan, sambil menunggu pembeli.

" Saya menganyam ketupat. Ada yang pilih beli janur, ada yang pilih beli selongsongnya,” kata Hartini penjual selongsong ketupat di Pasar Blora.

Harga seikat selongsong ketupat Rp7.000 berisi 10 buah selongsong.

Sementara itu, Indah seorang pembeli mengaku sangat terbantu dengan adanya janur dan selongsong yang dijual di pasaran. Bagi ibu rumah tangga, ini membuat tidak perlu repot membuat selongsong ketupat. Setelah membeli selongsong tinggal menyiapkan untuk memasaknya.“Tinggal diisi beras kemudian dimasak, tidak perlu repot buat lagi. Agar tidak layu, diperciki air atau ditaruh di tempat yang agak lembab,” kata Indah.Kupatan di Blora merupakan tradisi yang berlangsung setiap H+7 Idulfitri.Warga Blora menyebut bodo kupat (hari raya ketupat).Biasanya warga bersuka cita membuat ketupat dan lepet, kemudian dibuat sebagai tumpeng dan didoakan bersama. Acara selamatan biasanya digelar di rumah salah satu warga atau perangkat desa oleh pemuka agama, untuk memohon keselamatan kepada Tuhan dan dimaafkan kesalahannya.Beberapa warga memilih membuat dan memasak ketupat lebih awal untuk bekal saudara yang balik mudik ke luar daerah.Ketupat dan lepet juga diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.Dari berbagai sumber menyebutkan, dalam filosofi Jawa, ketupat bukanlah sekadar hidangan khas hari raya lebaran.Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Oleh karenanya, ketupat dan lepet selalu ada dalam tradisi saling bermaafan antar keluarga dan kerabat.Reporter: NathanEditor: Budi erje

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler