Kontan saja, kepulan asap membuat seluruh pegawai berteriak dan berlarian ke luar sambil berdesak-desakan untuk menyelematkan diri.
Tak ada satupun staf yang terlihat tenang dan berusaha untuk memadamkan asap tersebut. hingga membuat satu orang staff terperangkap dan tidak bisa menyelematkan diri. Kegaduhan dan ketakutan itu terlihat lagi saat mobil Damkar dengan sirine keras masuk ke halaman pemkab.
Hal tersebut tergambar saat simulasi kebakaran di kantor Pemkab Jepara, pagi tadi. Simulasi dalam rangka memperingati Hari Kesiagaan Bencana Nasional tersebut untuk melatih seluruh staf untuk siap menghadapi bencana. Terutama bencana kebakaran yang bisa terjadi kapan saja.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Arwin Noor Isdianto mengatakan kegiatan tersebut untuk melatih staf pemkab untuk tanggap saat terjadi bencana.
"Mengajarkan staf untuk bisa menyelematkan diri, karena hanya mereka yang bisa menyelamatkan diri sendiri. Skeitar 75 persen yang bisa menyelematkan mereka saat terjadi bencana itu adalah diri mereka sendiri, 35 persenya dari regu penyelamat. Mereka harus siap," jelasnya.
Namun, tambah Arwin, kesiapan tersebut belum terlihat. Belum adanya hydrant air dan minimnya alat pemadam kebakaran ringan (Apar) yang ada juga menjadi salah satu alasan ketidaksiapan Pemkab Jepara."Dari kegiatan simulasi ini, selanjutnya akan dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Dan meminta bupati untuk memberikan rekomendasi untuk pelatihan siap bencana kepada seluruh pegawai. Sehingga seluruh staf terlatih siap bencana," terangnya.Dia berharap dalam menghadapi musim kemarau yang cukup panjang ini, seluruh masyarakat Jepara dan Instansi terkait dapat siap menghadapi bencana terutama bencana kebakaran."Ke depan kami akan memberikan pelatihan kepada para staf. Dan membentuk lebih banyak lagi relawan di tiap desa dan kelurahan untuk siap bencana. Sehingga saat bencana mereka tau apa yang harus dilakukan dan membantu warga yang lain," tuturnya.
Editor : Ali Muntoha
Murianews, Jepara – Kamis (26/4/2018) pagi ini, seperti biasa lalu lalang orang-orang berpakaian rapi dan meja-meja penuh tumpukan berkas terlihat di Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara. Namun tiba-tiba asap muncul dari salah satu ruang di sisi selatan lantai dua.
Kontan saja, kepulan asap membuat seluruh pegawai berteriak dan berlarian ke luar sambil berdesak-desakan untuk menyelematkan diri.
Tak ada satupun staf yang terlihat tenang dan berusaha untuk memadamkan asap tersebut. hingga membuat satu orang staff terperangkap dan tidak bisa menyelematkan diri. Kegaduhan dan ketakutan itu terlihat lagi saat mobil Damkar dengan sirine keras masuk ke halaman pemkab.
Hal tersebut tergambar saat simulasi kebakaran di kantor Pemkab Jepara, pagi tadi. Simulasi dalam rangka memperingati Hari Kesiagaan Bencana Nasional tersebut untuk melatih seluruh staf untuk siap menghadapi bencana. Terutama bencana kebakaran yang bisa terjadi kapan saja.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Arwin Noor Isdianto mengatakan kegiatan tersebut untuk melatih staf pemkab untuk tanggap saat terjadi bencana.
"Mengajarkan staf untuk bisa menyelematkan diri, karena hanya mereka yang bisa menyelamatkan diri sendiri. Skeitar 75 persen yang bisa menyelematkan mereka saat terjadi bencana itu adalah diri mereka sendiri, 35 persenya dari regu penyelamat. Mereka harus siap," jelasnya.
Namun, tambah Arwin, kesiapan tersebut belum terlihat. Belum adanya hydrant air dan minimnya alat pemadam kebakaran ringan (Apar) yang ada juga menjadi salah satu alasan ketidaksiapan Pemkab Jepara.
"Dari kegiatan simulasi ini, selanjutnya akan dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Dan meminta bupati untuk memberikan rekomendasi untuk pelatihan siap bencana kepada seluruh pegawai. Sehingga seluruh staf terlatih siap bencana," terangnya.
Dia berharap dalam menghadapi musim kemarau yang cukup panjang ini, seluruh masyarakat Jepara dan Instansi terkait dapat siap menghadapi bencana terutama bencana kebakaran.
"Ke depan kami akan memberikan pelatihan kepada para staf. Dan membentuk lebih banyak lagi relawan di tiap desa dan kelurahan untuk siap bencana. Sehingga saat bencana mereka tau apa yang harus dilakukan dan membantu warga yang lain," tuturnya.
Editor : Ali Muntoha