Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Sesuai namanya, akar dari pepohonan beringin karet tersebut seolah melindungi telaga yang berada di tengahnya. Untuk memasuki objek wisata itu, per orang hanya dikenai biaya kebersihan sebesar Rp 2.500. 

Hadi Priyanto Ketua Pengelola Telaga Sejuta Akar mengatakan, konon tempat itu sudah ada sebelum desa tersebut dibangun. Mitosnya, tempat itu adalah petilasan Dewi Anjani yang kemudian melahirkan anak yang berupa kera putih Hanoman. 

"Mitosnya dulu telaga ini disebut sebagai Telaga Mandireja, tempat Dewi Anjani hamil dan kemudian melahirkan kera berwarna putih yang disebut Hanoman. Sehingga dulu, di sini banyak spesies tersebut. Namun kini sudah tidak ada jejaknya," ujarnya, ditemui di wanawisata tersebut, Sabtu (2/9/2017). 

BacaAir Sumur Petilasan Empu Supo di Pati Diyakini Bisa Bikin Awet Muda

Kisah lain memaparkan, sebelum desa itu ditinggali oleh orang telaga tersebut telah ada. Konon, sesepuh desa tersebut bernama Mbah Isrom, sengaja tidak membabat pepohonan yang ada ditebang. 

"Dukuh ini ada sekitar tahun 1901. Dulu tempat ini disakralkan, konon orang yang menstruasi tidak boleh memasuki salah satu bagian dari tempat ini. Namun kalau sekadar berkunjung boleh. Akan tetapi itu dulu sekarang ya sudah tidak," tambahnya. 

BacaIni Mitos Daun Jati dan Beras yang Tersisa Usai Buka Luwur Makam Sunan Kudus

Dirinya menuturkan, telaga tersebut sempat mengering karena banyaknya sedimentasi. Akhirnya pada sepuluh tahun lalu, warga bersama pemerintah desa mulai merevitalisasi tempat tersebut. Telaga tersebut diketahui tak hanya dipergunakan sebagai tempat wisata, namun berperan sebagai sumber pengairan bagi sawah-sawah di sekitarnya. Total ada 90 hektare sawah yang bisa teraliri air dari telaga tersebut.  BacaMbah Bungkuk Mengaku Pernah Ditemui Angling Darma"Ke depan, kami harap objek wisata ini dapat menjadi semacam laboratorium pendidikan alam. Soalnya pepohonan di sini juga cukup langka. Selain itu, kami ingin dengan merawat tempat ini, air yang digunakan untuk pengairan bisa terus tercukupi. Karena sejatinya tempat ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus dijaga," urainya. Selain bisa ngadem, tempat ini juga cocok untuk dijadikan lokasi camping atau memancing. Sebab di telaga tersebut telah ditebar bibit ikan seperti nila. BacaKhasiat Air Sendang, Dipercaya Bikin Awet MudaSeorang pelancong Adi menuturkan baru kali tersebut ia menginjakan kaki di tempat tersebut. Berwisata bersama kawan-kawannya, ia mengaku takjub akan akar pepohonan yang menghujam ke tanah. "Banyak sekali akarnya, jadi seperti tirai dan bagus juga untuk foto-foto," ujar warga Bangsri itu. Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler