Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


"Selama ini, pendidikan karakter sudah diajarkan di sekolah. Namun hal itu baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai, belum pada tingkat internalisasi dan tindakan nyata," kata Marzuqi, di depan kepala sekolah, guru  dan tenaga pendidik non PNS sera non sertifikasi, di Pendapa Kabupaten, Selasa (12/9/2017). 

Menurutnya, internalisasi dan aksi nyata pendidikan karakter bermula dari contoh yang diberikan oleh pengelola sekolah. Hal itu bertujuan agar murid yang ada di sekolahan bisa mencontoh dan menerapkannya di lingkungan nyata. 

"Kalau pengelola sekolah gagal memberikan contoh pendidikan karakter yang baik, saya yakin tujuan diberikannya pendidikan berkarakter di sekolah tak akan efektif," terang Marzuqi.
Pada kesempatan itu, bupati juga tidak lagi mempersoalkan sekolah bersistem Full Day. Menurutnya, sesuai dengan Perpres 87/2017 kebijakan tersebut berlaku sebagai pilihan, bukan lagi kewajiban. "Setelah keluarnya perpres 87/2017 saya harap menyudahi polemik sekolah 8 jam sehari atau lima hari kerja," ujarnya.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler