Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Mbak Duta Wisata Regina Lulu Fani (19) mengatakan, Hari Batik Nasional merupakan momen agar kawula muda lebih mengenal dan suka dengan jenis pakaian tersebut. 

"Kita generasi muda hendaknya juga ikut melestarikan batik, kain jenis ini hendaknya tak hanya digunakan untuk orang tua akan tetapi juga bagi kita yang anak muda," katanya, Senin (2/10/2017). 

Ia mengaku satu diantara upaya pelestarian batik pada kalangan anak muda adalah memakainya secara reguler. Regina berkata, seminggu sekali ia selalu mengenakan batik. 

"Seminggu sekali, terutama hari Kamis, setiap saya ke kampus pasti diwajibkan memakai batik. Nah untuk itu saya selalu memakainya dan kini saya sudah memunyai lima pasang batik, dari Solo, Pekalongan dan tentu saja motif Jepara," tambahnya. 

Dirinya mengatakan, batik motif Jepara memunyai keunggulan tersendiri. Hal itu dilihat dari motif ukiran yang tercetak diatas kain disamping itu, batik tersebut juga memunyai warna yang khas. 

Pemudi lain, Refi Prastika (20) mengatakan kain batik baginya telah menjadi bagian dari hidupnya. Lantaran, di tengah kesibukannya kuliah ia nyambi sebagai pembatik.

"Saya bisnis kecil-kecilan hijab namun coraknya menggunakan teknik batik jumput," urainya.
Refi mengaku, banyak anak-anak muda yang tertarik dengan batik kreasinya. Hal itu karena di pasaran jarang ditemui hijab atau jilbab bermotif tersebut. Terkait hari batik nasional, ia sangat mengapresiasinya. Namun kedepan ia berharap promosi akan kain tersebut lebih masih dan sifatnya kekinian. "Contohnya dengan penerapan motif yang disukai anak-anak muda. Ataupun penerapan kebijakan berbatik untuk anak sekolah sampai universitas. Yang lain bisa mengadakan peragaan busana atau lomba-lomba batik. Hal lain adalah harganya, jangan terlalu mahal agar masyarakat bawah bisa menjangkaunya," ungkap alumni SMKN 2 Jepara itu. Hal serupa diungkapkan Rita Sugianingsih (19), perempuan yang juga perajin batik ciprat itu ingin agar kawula muda tidak meninggalkan batik."Batik bisa sebagai bisnis, asalkan kita berani beda dan menciptakan produk yang berbeda dari pasaran pasti dilirik orang," tuturnya.Penetapan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional didasarkan atas penetapan batik oleh UNESCO sebagai Warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di tahun 2009.Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler