Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

 

Seorang penonton sekaligus peserta anak, Angel (7) mengatakan, sangat senang dapat 'berkubang' dalam lumpur. Terlebih kesempatan itu merupakan yang pertama baginya. 

 

"Baru sekali ini bisa main lumpur di sawah, rasanya ternyata asyik. Temannya banyak," ujarnya polos. 

 

Selain asyik bermain lumpur, bocah itu mengaku senang akan permainan tradisional yang baru pertama kali ia mainkan. Seperti Bantengan, Grobak Sodor atau cublak-cublak suweng. 

 

Yazid panitia acara ini mengungkapkan konsep lumpur sengaja siangkat. Hal itu untuk mengenalkan sawah kepada generasi muda. "Sawah bukan hanya media bercocok tanam, namun juga berpotensi menjadi media pendidikan, khususnya non formal atau luar sekolah. Kedepan kegiatan ini akan terus dilestarikan," katanya.

 

 
Menurutnya, ada tiga band beraliran jazz yang diundang untuk memeriahkan event tersebut. Mereka adalah Bambu Attack, Edelwies Pagi dan Wdhang Rondo. Adapun kegiatan itu diadakan di areal persawahan yang ada di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara.
 
Editor: Supriyadi
 
Seorang penonton sekaligus peserta anak, Angel (7) mengatakan, sangat senang dapat 'berkubang' dalam lumpur. Terlebih kesempatan itu merupakan yang pertama baginya. 
 
"Baru sekali ini bisa main lumpur di sawah, rasanya ternyata asyik. Temannya banyak," ujarnya polos. 
 
Selain asyik bermain lumpur, bocah itu mengaku senang akan permainan tradisional yang baru pertama kali ia mainkan. Seperti Bantengan, Grobak Sodor atau cublak-cublak suweng. 
 
Yazid panitia acara ini mengungkapkan konsep lumpur sengaja siangkat. Hal itu untuk mengenalkan sawah kepada generasi muda. "Sawah bukan hanya media bercocok tanam, namun juga berpotensi menjadi media pendidikan, khususnya non formal atau luar sekolah. Kedepan kegiatan ini akan terus dilestarikan," katanya.
 
Menurutnya, ada tiga band beraliran jazz yang diundang untuk memeriahkan event tersebut. Mereka adalah Bambu Attack, Edelwies Pagi dan Wdhang Rondo. Adapun kegiatan itu diadakan di areal persawahan yang ada di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara.
 
Editor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler