Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ketua MUI Jepara, Mashudi mengatakan pilkada di Kota Ukir yang hanya diikuti oleh dua paslon memang memunculkan kerawanan tersendiri. Seperti kampanye negatif yang menyerang salah satu paslon dengan menggunakan istilah yang berkaitan dengan tingkat penguasaan ilmu agama.

Dan hal itu diakuinya sudah mulai muncul. Salah satunya seperti yang terjadi saat forum pengajian yang digelar di Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara.

"Kiai pengajian itu membandingkan dua paslon. Tapi ujungnya itu mengarah kampanye negatif yang menyerang paslon lain," kata akademisi Unisnu Jepara dan juga UIN Walisongo Semarang ini, baru-baru ini.

Mashudi berharap tokoh agama di Kabupaten Jepara tidak terkotak-kotak atau bahkan malah memprovokasi yang berujung terbelahnya masyarakat seiring gawe pilkada.

Menurutnya, tokoh agama justru harus mendorong pelaksanaan gawe pilkada yang damai dan teduh di Kota Ukir."Istilahnya jangan sampai ada kaca yang pecah atau ranting yang patah hanya gara-gara pilkada. Kasus Dongos beberapa tahun lalu di Jepara harus jadi pelajaran kita bersama," ujarnya.Diketahui, kasus rusuh pemilu di Desa Dongos, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara terjadi pada 30 April 1999 atau kurang dari dua bulan menjelang Pemilu 1999. Waktu itu massa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan massa Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terlibat bentrok yang mengakibatkan empat orang tewas, puluhan luka-luka dan kerugian material lainnya.Ihwal mulai munculnya kampanye negatif yang menyerang paslon tertentu juga diakui oleh Ali Mursid dari Ponpes Dhilalul Quran, Raguklampitan, Jepara. Bahkan "serangan" itu dengan menggunakan sarana publik baik yang ada di dunia maya maupun nyata. "Itu sudah marak sekali. Ini yang kita sesalkan," ujarnya.Editor : Akrom Hazami

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler