Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Grobogan – Makam Ki Ageng Tarub menjadi salah satu tempat yang selalu diziarahi Bupati Grobogan dan jajarannya saat peringatan hari jadi kabupaten tersebut.

Lokasi makamnya berada di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Dari Alun-Alun Purwodadi jaraknya sekitar 14 km dengan waktu tempuh sekitar 25-30 menit.

Tepatnya, dari perempatan Ngantru, Tawangharjo, belok ke arah utara. Jaraknya sekitar 2 km dari perempatan Ngantru.

Kembali ke sosok Ki Ageng Tarub. Tokoh ini lekat dengan legenda Joko Tarub yang dikenal masyarakat. Namun, ternyata ia bukan sekadar legenda yang lahir dari sebuah imajiner.

Baca juga: Jelang Hari Jadi, Bupati Grobogan Ziarahi Makam Ki Ageng Tarub

Juru Kunci Makam Ki Ageng Tarub, Kanjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT) Hastono Adinagoro atau Priyana mengatakan, Ki Ageng Tarub merupakan keturunan utusan dari Arab, Syech Jumadil Kubro.

Diceritakan, Syech Jumadil Kubro datang ke tanah Jawa sekitar 1300 Masehi. Syech Jumadil Kubro ditugasi menyebarkan agama Islam di Jawa yang saat itu mayoritas masih beragama Budha.

Pendekatan yang dilakukan utusan dari Arab itu yakni dengan bertapa, sama seperti penduduk Jawa ketika itu. Namun, cara bertapanya berbeda, yakni memanjat pohon kemudian menggelantungkan badannya ke bawah seperti kalong. Cara bertapa yang kemudian terkenal dengan tapa ngalong.

Suatu hari, di tengah pertapannya, Syech Jumadil Kubra bertemu dengan Dewi Retno Roso Wulan, adik Sunan Kalijaga. Dewi Retno dikisahkan diperintah ayahandanya, yakni Bupati Tuban Adipati Wilotikto untuk bertapa selama tujuh tahun di hutan.

“Itu syarat yang diberikan ayahandanya untuk bertemu Sunan Kalijaga. Di hutan itu hanya boleh makan dedaunan dan tidak boleh pulang,” kata KRT Hastono pada MURIANEWS.Dari pertemuan itu, seiring berjalannya waktu, keduanya pun menikah. Dari pernihahannya, lahirnya laki-laki yang kemudian dinamai Joko Tarub atau Ki Ageng Tarub.Saat masih bayi, Joko Tarub diasuh Dewi Kasihan. Saat beranjak dewasa, Joko Tarub menikahi Dewi Nawang Wulan, bidadari yang selendangnya tak sengaja terbawa olehnya.Dari pernikahannya dengan Dewi Nawang Wulan, lahirlah Dewi Nawangsih. Setelah sang putri ini beranjak dewasa, Dewi Nawangsih menikah dengan putra Prabu Brawijaya V, Bondan Kejawen.Nah, penikahan antara Dewi Nawangsih dengan Bondan Kejawan inilah yang kemudian lahir cikal bakal raja-raja di Tanah Jawa.Pernikahan Bondan Kejawen dan Dewi Nawangsih, lahir Ki Ageng Getas Pendowo. Setelah dewasa dan menikah Ki Ageng Getas Pendowo pun dikaruniai anak yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Keturunan Ki Ageng Selo lah yang kemudian dikenal menjadi para raja di pulau Jawa.“Jadi Ki Ageng Tarub itu punjernya tanah Jawa. Semasa hidupnya memperjuangkan agama Islam di tanah Jawa. Ki Ageng Tarub itu dikaruniai karomah yang luar biasa. Biar pun keponakan Sunan Kalijaga, tapi tidak pernah membawa senjata. Istilahnya nyepuhi,” terang juru kunci. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler