MURIANEWS, Grobogan – Ada sejumlah versi dalam kisah legenda Joko Tarub yang kita dengar. Yakni, kisa pertemuan Joko Tarub saat bertemu dengan tujuh bidadari.
Akrab di telinga kita, Joko Tarub sengaja mengambil atau mencuri selendang dari salah satu tujuh bidadari itu. Yakni selendang milik Dewi Nawang Wulan.
Namun, cerita berbeda diungkapkan Juru Kunci Makam Ki Ageng Tarub, Kanjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT) Hastono Adinagoro atau Priyana.
Baca juga: Ki Ageng Tarub, Leluhurnya Para Raja Tanah JawaDiceritakannya, Joko Tarub putra Syech Jumadil Kubro saat diasuh Dewi Kasihan, sangat gemar mencari buruh di hutan. Bahkan ia berani masuk hutan sendirian.
Suatu hari, saat berburu burung, Joko Tarub bertemu dengan sosok orangtua. Oleh orangtua itu, dia diberi pusaka tulup yang kemudian diberi nama ‘Tulup Tunjung Lanang’.
Tulup itu menjadikan Joko Tarub lebih bersemangat berburu. Padahal, ia meskipun dilarang, Dewi Kasihan.
Kemudian, ada hari di mana Joko Tarub berburu perkutut yang indah. Ia pun penasaran dan terus mengikuti arah burung itu. Namun, hingga memasuki waktu Dhuhur, burung itu belum juga tertangkap.
Kebetulan, Joko Tarub tiba di suatu sendang yang diberi nama Sendang Telogo. Di dekat telaga itu, Joko Tarub muda menancapkan tulupnya untuk ditinggal wudhu dan kemudian salat.
Pada saat itu, kebetulan terdapat sejumlah bidadari yang akan mandi di sendang tadi. Tulup milik Joko Tarub itu jadi tempat diletakkannya pakaian salah satu bidadari.
Usai salat, Joko Tarub pulang begitu saja dan mengambil tulupnya. Tanpa disadari, pakaian atau selendang bidadari itu turut terbawa olehnya.Sampai di rumah, ia baru menyadari ada pakaian bidadari yang terbawa olehnya. Saat melapor pada Dewi Kasihan, pakaian itu langsung disimpan begitu saja di ruang yang diperuntukkan menumbuk padi.“Joko Tarub kemudian kembali ke sendang, tapi para bidadari sudah pergi dan menyisakan satu saja, ya itu bidadari yang pakaiannya dia bawa pulang. Bidadari itu ngomong, barang siapa menolong saya, bila perempuan aku jadikan saudara, bila laki-laki akan aku jadikan suami,” terangnya.Joko Tarub pun melemparkan pakaian ibunya yang dibawa ke bidadari itu. Bidadari itu kemudian dibawa pulang dan dia menepati janjinya. Joko Tarub akhirnya menikah dengan bidadari yang kemudian diketahui bernama Dewi Nawang Wulan itu.Sendang tempat mandi bidadari itu kemudian dinamakan Sendang Telaga Bidadari. Lokasinya kini berada di Dukuh Sreman, Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo. Usai menikah, Joko Tarub diberi gelar Sunan Tarub atau Ki Ageng Tarub.Makam Ki Ageng Tarub menjadi salah satu tempat yang selalu diziarahi Bupati Grobogan dan jajarannya saat peringatan hari jadi kabupaten tersebut.Lokasi makamnya berada di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten
Grobogan. Dari Alun-Alun Purwodadi jaraknya sekitar 14 km dengan waktu tempuh sekitar 25-30 menit.Tepatnya, dari perempatan Ngantru, Tawangharjo, belok ke arah utara. Jaraknya sekitar 2 km dari perempatan Ngantru. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi
[caption id="attachment_273643" align="alignleft" width="1280"]

Pintu masuk kompleks makam Ki Ageng Tarub, Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. (MURIANEWS/Saiful Anwar)[/caption]
MURIANEWS, Grobogan – Ada sejumlah versi dalam kisah legenda Joko Tarub yang kita dengar. Yakni, kisa pertemuan Joko Tarub saat bertemu dengan tujuh bidadari.
Akrab di telinga kita, Joko Tarub sengaja mengambil atau mencuri selendang dari salah satu tujuh bidadari itu. Yakni selendang milik Dewi Nawang Wulan.
Namun, cerita berbeda diungkapkan Juru Kunci Makam Ki Ageng Tarub, Kanjeng Raden Arya Tumenggung (KRAT) Hastono Adinagoro atau Priyana.
Baca juga: Ki Ageng Tarub, Leluhurnya Para Raja Tanah Jawa
Diceritakannya, Joko Tarub putra Syech Jumadil Kubro saat diasuh Dewi Kasihan, sangat gemar mencari buruh di hutan. Bahkan ia berani masuk hutan sendirian.
Suatu hari, saat berburu burung, Joko Tarub bertemu dengan sosok orangtua. Oleh orangtua itu, dia diberi pusaka tulup yang kemudian diberi nama ‘Tulup Tunjung Lanang’.
Tulup itu menjadikan Joko Tarub lebih bersemangat berburu. Padahal, ia meskipun dilarang, Dewi Kasihan.
Kemudian, ada hari di mana Joko Tarub berburu perkutut yang indah. Ia pun penasaran dan terus mengikuti arah burung itu. Namun, hingga memasuki waktu Dhuhur, burung itu belum juga tertangkap.
Kebetulan, Joko Tarub tiba di suatu sendang yang diberi nama Sendang Telogo. Di dekat telaga itu, Joko Tarub muda menancapkan tulupnya untuk ditinggal wudhu dan kemudian salat.
Pada saat itu, kebetulan terdapat sejumlah bidadari yang akan mandi di sendang tadi. Tulup milik Joko Tarub itu jadi tempat diletakkannya pakaian salah satu bidadari.
Usai salat, Joko Tarub pulang begitu saja dan mengambil tulupnya. Tanpa disadari, pakaian atau selendang bidadari itu turut terbawa olehnya.
Sampai di rumah, ia baru menyadari ada pakaian bidadari yang terbawa olehnya. Saat melapor pada Dewi Kasihan, pakaian itu langsung disimpan begitu saja di ruang yang diperuntukkan menumbuk padi.
“Joko Tarub kemudian kembali ke sendang, tapi para bidadari sudah pergi dan menyisakan satu saja, ya itu bidadari yang pakaiannya dia bawa pulang. Bidadari itu ngomong, barang siapa menolong saya, bila perempuan aku jadikan saudara, bila laki-laki akan aku jadikan suami,” terangnya.
Joko Tarub pun melemparkan pakaian ibunya yang dibawa ke bidadari itu. Bidadari itu kemudian dibawa pulang dan dia menepati janjinya. Joko Tarub akhirnya menikah dengan bidadari yang kemudian diketahui bernama Dewi Nawang Wulan itu.
Sendang tempat mandi bidadari itu kemudian dinamakan Sendang Telaga Bidadari. Lokasinya kini berada di Dukuh Sreman, Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo. Usai menikah, Joko Tarub diberi gelar Sunan Tarub atau Ki Ageng Tarub.
Makam Ki Ageng Tarub menjadi salah satu tempat yang selalu diziarahi Bupati Grobogan dan jajarannya saat peringatan hari jadi kabupaten tersebut.
Lokasi makamnya berada di Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten
Grobogan. Dari Alun-Alun Purwodadi jaraknya sekitar 14 km dengan waktu tempuh sekitar 25-30 menit.
Tepatnya, dari perempatan Ngantru, Tawangharjo, belok ke arah utara. Jaraknya sekitar 2 km dari perempatan Ngantru.
Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi