Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, GroboganBencana banjir dan kekeringan sering terjadi di Kabupaten Grobogan. Bahkan sampai muncul celoteh ‘kalau hujan tidak bisa jongkok, kalau kemarau tidak bisa cebok’.

Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto mengatakan ada beberapa hal yang menyebabkan bencana banjir masih melanda di Kabupaten Groboga. Salah satunya buruknya konservasi hutan.

Kondisi itu diperparah dengan tingginya praktik buang sampah di sungai maupun di tanggul sungai. Akibatnya sedimentasi sungai kian parah dan bila intensitas hujan tinggi maka bencana banjir tak terelakkan.

“Ketika intensitas hujannya tinggi, didukung oleh konservasi hutan yang tidak bagus, penggundulan hutan di daerah hulu sana, otomatis air itu akan ke bawah,” kata Anang, Selasa (29/3/2022).

Selain itu, di Grobogan juga terdapat beberapa daerah cekungan. Letak geografis seperti itu membuat wilayah tersebut rentan tergenang banjir.

Baca juga: Bencana Banjir Grobogan Makin Meluas

Apalagi, lanjut Anang, ditambah dengan adanya luapan sungai, maka banjir pun terjadi. Kebetulan, Kabupaten Grobogan sendiri dilalui sejumlah sungai besar seperti Sungai Lusi, Sungai Serang, dan Sungai Tuntang.“Seperti banjir di Cingkrong (Kecamatan Purwodadi) kemarin itu kan karena luapan Sungai Serang,” tambah Anang.Sementara, pada penyebab bencana kekeringan di beberapa tempat di Kabupaten Grobogan dikarenakan struktur tanahnya tidak terdapat cekungan bawah tanah. Selain itu, beberapa daerah rawan bencana kekeringan juga tidak adanya sumber air baku di permukaannya.“Tidak semua desa kan dekat dengan sungai, dekat dengan waduk. Sehingga tidak semua air permukaannya ada. Ditambah tidak ada lagi air di bawah tanahnya. Maka susah bagi mereka di musim kemarau mendapatkan air,” terangnya. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler