Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, GroboganBencana banjir dan kekeringan yang kerap terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah membutuhkan solusi yang tepat untuk menanggulanginya.

Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto mengatakan ada solusi yang mestinya bisa dilakukan di Grobogan. Seperti menanam pohon penyerap air atau membuat sumur resapan. Dengan begitu, air yang melimpah saat hujan dapat dimanfaatkan.

“Kalau bisa ya menanam di lahan-lahan kosong. Di rumah bisa bikin seperti itu sudah bagus. Misalnya tanam pohon besar seperti beringin yang memang bisa meresap air. Kemudian bikin sumur resapan, sehingga air tertampung di dalam sumur itu,” kata Anang.

Baca juga: Bencana Banjir dan Kekeringan Masih Mengancam Grobogan, Ini Sebabnya

Anang menyebut, air hujan yang tertampung itu dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan, atau pun mandi cuci kakus (MCK).

“Ada toren air yang bisa menampung air hujan. Setidaknya bisa dimanfaatkan untuk siram-siram, nyuci-nyuci, kebutuhan MCK kan bisa. Nanti yang air bawah tanahnya bisa untuk air minum,” imbuhnya.

Pembuatan lubang biopori juga sangat disarankan. Sebab, air akan masuk dengan cepat ke tanah lewat lubang-lubang biopori itu.
Pembuatan lubang biopori juga sangat disarankan. Sebab, air akan masuk dengan cepat ke tanah lewat lubang-lubang biopori itu.“Lubang biopori itu kan bagus, sifatnya meresap. Membuatkan lubang-lubang ke pori-pori tanah sehingga air itu gampang masuk ke tanah,” jelasnya.“Harapannya, dengan tanah yang tidak ada cekungan bawahnya tadi, tapi kan menyimpa air. Sehingga ketika kemarau panjang tidak langsung habis,” tambahnya.Menurutnya, menggerakkan masyarakat untuk bersedia membikin tampungan air tersebut memang tidak mudah. Padahal, sebenarnya untuk membuatnya bisa mandiri karena tidak membutuhkan dana yang besar.“Itu kan bisa mandiri. Tidak harus permanen yang bagus. Mau menggali tanah dengan peralon-peralon bekas itu kan bisa. Masyarakat yang mampu kan banyak. Misalnya pegawai negeri, ASN, nanti desa-desa. Itu kan tidak mahal. Kesadaran saja sebenarnya,” terangnya. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler