Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Grobogan – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan terus berupaya menghilangkan stigma sebagai daerah yang ‘rendeng raisa ndodok, ketiga raisa cebok’.

Stigma itu berarti, daerah terluas kedua di Jawa Tengah itu sering banjir saat musim hujan dan kekeringan pas kemarau.

Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto mengatakan perlu rekomendasi-rekomendasi untuk mengentaskan Kota Kedelai dari masalah kekeringan dan banjir yang masih menghantui.

Baca: Bencana Banjir dan Kekeringan Ancam Grobogan, Ini Solusi yang Ditawarkan Bappeda

Itu diungkapkan dalam Focus Group Discussion (FGD) Dewan Riset Daerah Pembangunan Daerah Pembangunan Daerah Berbasis SDG’s (Sustainable Development Goals) di Rumah Kedelai Grobogan, Kamis (16/6/2022).

Salah satu rekomendasi yang muncul dalam forum itu. Seperti, upaya penyelamatan sumber daya air di musim hujan. Dengan begitu, air itu bisa dimanfaatkan saat kemarau.

”Mungkin perlu reservasi lahan, atau membangun biopori, dan sebagainya. Nantinya sampai muncul rekomendasi agar Grobogan tidak kesulitan air lagi,” kata Anang.

Di forum itu hadir juga anggota Dewan Riset Daerah Grobogan Universitas Diponegoro Semarang, Sriyana. Sriyana mengungkapkan, daerah aliran sungai (DAS) merupakan rumah kita.”Pembangunan daerah kita ini harus berbasis SDGs untuk mendukung visi misi Grobogan. Kita akan membuat dokumen perencanaan basis kinerja DAS,” paparnya.Pendekatannya, lanjut Sriyana, dengan memperhitungkan lima kriteria dan 15 sub kriteria yang keluarannya merupakan grand design.Dalam grand design itu telah mencantumkan jangka pendek, menengah dan jangka panjang.”Lima kriteria itu antara lain, tata guna lahan, tata air, kondisi sosial ekononi, asset bangunan seperti apa, dan terakhir pembagian wilayahnya. Itu akan kita perhitungkan sebagai patokan untuk membuat grand design berbasis SDGs,” ungkapnya. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler