Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Grobogan – Jumlah ternak mati karena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melesat. Itu menyusul adanya sapi mati karena PMK di Desa Jambangan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Data terakhir pada Senin (4/7/2022), total ternak mati karena PMK sebanyak 45 ekor. Dari jumlah itu, sumbangan terbanyak dari Desa Jambangan sebanyak 39 ekor.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Grobogan Riyanto mengatakan, kini hampir semua ternak di Desa Jambangan terpapar PMK.

Baca: PMK, Penyebab 30an Sapi Mati di Grobogan

Diperkirakan, ada lebih dari seribu ternak yang terpapar PMK. Lonjakan itu akibat penanganan yang terlambat. Disnakkan pun mengupayakan menekan penularannya.

”Sudah seribuan lebih yang kena. Saya yakin dalam sehari dua hari ke depan pasti ada yang mati lagi. Karena, kondisinya sudah parah sejak kemarin-kemarin,” kata Riyanto, Selasa (5/7/2022).

Pihaknya sendiri sudah menyambangi Desa Jambangan. Ia pun berpesan pada peternak, petugas Disnakkan dan jajaran agar dilakukan upaya memutus rantai penularan.”Sudah disampaikan langsung ke balai desa. Kami minta untuk rutin dilakukan penyemprotan. Sudah kami tinggali desinfektan di sana juga,” imbuhnya.Peternak juga diminta tidak membeli ternak baru maupun menjual ternakknya untuk sementara waktu. Kemudian, saat ada sapi mati, warga diminta berhati-hati agar tidak menjadi media penularan bagi ternaknya masing-masing.”Sudah disarankan, kalau ada (sapi, red) yang sakit jangan dikumpulkan yang sehat. Kalau (ternak, red) tetangga ada yang sakit sampai mati, jangan ditonton. Nanti kalau ada yang sakit lagi, lapornya ke petugas yang kompeten,” papar Riyanto. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler