Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Grobogan – Lokalisasi Gunung Buthak di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menjadi salah satu lokasi berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS.

”Iya (lokalisasi Gunung Buthak, red), termasuk resiko tinggi,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan Slamet Widodo, Selasa (13/9/2022).

Selain adanya lokalisasi, Slamet menyebut, tingginya kasus HIV/AIDS di Grobogan juga disebabkan mobilitas penduduk yang tinggi.

”Tentunya penyebabnya macam-macam. Salah satunya, mobilitas penduduk sudah tinggi. Kalau sumber penyakitnya, bisa dari luar, bisa dari dalam daerah, juga penderita dengan risiko tinggi,” paparnya.

Baca: 1.529 Orang di Grobogan Positif HIV sejak 2002, 91 di Antaranya Anak-Anak

Slamet menyatakan kasus HIV/AIDS tergolong tinggi di Kabupaten Grobogan. Di Jawa Tengah, kabupaten berjuluk Kota Kedelai itu menempati peringkat ketujuh.

”Memang di Kabupaten Grobogan termasuk yang masih cukup tinggi. Kalau nomornya se-Jawa Tengah ini ketujuh,” paparnya.

Lebih lanjut, Slamet menerangkan, dalam kasus HIV/AIDS, semakin banyak ditemukan justru semakin bagus. Sebab, jika dapat dideteksi sejak dini, penanganan terhadap pasien semakin baik.”Semakin banyak ditemukan secara cepat, secara dini, itu kan sebenarnya semakin baik. Makanya, target kami menemukan penderita sebanyak-banyaknya, sehingga bisa dikelola agar tidak menularkan ke yang lain,” imbuhnya.Menurut Slamet, penemuan kasus yang banyak lebih baik daripada hanya sedikit ditemukan. Sebab, jika tidak ditemukan secara dini dikhawatirkan dapat membahayakan masyarakat.”Maka kami selalu gencar melakukan kegiatan penemuan dini di masyarakat. Dengan begitu, mereka bisa segera ditangani dan tidak menularkan ke mana-mana,” kata dia.Adapun, berdasar data dari Dinkes Grobogan, jumlah kasus HIV/AIDS sejak 2002 hingga Mei 2022 sebanyak 1.529 orang. Dari total kasus tersebut, 91 penderita di antaranya merupakan anak-anak. Reporter: Saiful AnwarEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler