Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Pati - Habib Anis Sholeh Ba’asyin meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam mencari kebenaran sejati. Pasalnya, belum tentu sesuatu yang dinarasikan benar dan baik bagi sebagian orang merupakan kebenaran yang hakiki.

Dalam Suluk Maleman edisi ke 122 seri dari rumah pada Sabtu (19/2/2022) malam kemarin. Habib Anis yang juga seorang budayawan mengatakan dalam istilah Jawa ada tiga tingkatan kebenaran. Yakni benar menurut diri sendiri, bener menurut kebanyakan orang

“Dan bener sejati (kebenaran sejati). Oleh karena itulah tidak tepat jika saling mengklaim kebenaran berdasar pendapatnya sendiri maupun kelompoknya.” tutur Habib Anis.

“Karena banyak juga yang dianggap kebenaran ternyata tidak memiliki dasar kebenaran yang jelas,” lanjutnya.

Baca10 Tahun Suluk Maleman, Strategi Menghadapi Zaman yang Kian Menggila

Berdasarkan suatu ajaran, kata dia, manusia tidak akan menyentuh kebenaran kecuali yang selalu menyucikan diri. Penyucian diri ini tak sebatas dari kotoran secara fisik namun pemikiran. Baik kepentingan pribadi dan kelompok, maupun penilaian dari masa lalu dan yang berkembang di masyarakat.

Maka dari itu, menurutnya, proses mencari kebenaran ini tak hanya dengan cara tekstual membaca kitab suci semata. Diperlukan juga pembacaan secara non tekstual dengan cara memahami diri manusia, lingkungan hingga alam semesta.

BacaSuluk Maleman: Mengurai Batasan, Menemukan Kenikmatan

Hanya saja harus diakui dalam mencari kebenaran ironisnya orang seringkali memilih berdasarkan apa yang diinginkannya saja atau sesuai kepentingannya. Kebenaran tak lagi menjadi penting, namun kepentingan tentang apa yang ingin dilihat yang dianggap kebenaran.

“Bahkan sampai ada pola pikir dimana kesalahan yang diulang-ulang secara terus menerus akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran,” ungkap penggagas Suluk Maleman tersebut.

Prof Saratri Wilonoyudho, juga menyampaikan hal senada. Dia mengingatkan bahwa setiap kebenaran belum tentu kebenaran sejati. Bahkan ilmu pengetahuan sendiri harus terus diperbaharui.

BacaSuluk Maleman: Fatamorgana Jadi Pujaan Manusia

“Setiap hari kita diajarkan untuk berdoa meminta diberikan jalan yang lurus atau benar. Itu menunjukkan masih sangat mungkin kita berbuat kesalahan,” imbuhnya.
Menurutnya, untuk mencapai kebenaran bisa dilakukan setidaknya lewat tiga tahapan. Yang pertama yakni mempercayai yang ghoib, atau menyadari jika tak semua di dunia ini diketahui dengan nyata. Hal itu dicontohkannya seperti seorang ilmuwan.“Ilmuwan dalam benaknya harus merasa tidak tahu. Keilmuan adalah kerendah hatian untuk merasa tidak tahu. Dari situlah kita akan mengejar ketidak tahuan dengan melakukan penelitian,” imbuhnya.Setelah itu, lanjutnya, masuk mencari keilmuan. Seorang ilmuan tentu sadar tidak ada kebenaran mutlak. Sehingga harus dicari secara berkelanjutan. Semetara tahapan ketiga adalah ditujukan kepada Allah.“Ini juga realisasinya tak semua ditujukan ke Allah. Bahkan itu juga yang mendasari tak sedikitnya ilmu yang hancur dan menuju kerusakan. Karena dasarnya justru untuk komersialisasi, industrialisasi bukan pada sesuatu yang baik,” tambahnya.BacaSuluk Maleman, Gus Mus: Kita Harus Berterimakasih Masih Ditegur AllahHal itupun juga begitu terlihat di dunia politik. Banyak yang justru memanipulasi kebenaran untuk kepentingannya. Seperti orang yang tidak pernah shalat, namun saat menyalonkan diri untuk posisi politik tertentu justru menggunakan banyak simbol keagamaan.“Bisa jadi itu bukanlah kebenaran tapi di klaim sebagai kebenaran dan disuguhkan ke masyarakat. Mereka mencoba memanipulasi kebenaran. Mereka berifikir kesalahan yang menumpuk lambat laun akan diakui sebagai sebuah kebenaran,” terangnya.Sementara itu, Drs. Ilyas Arifin menambahkan, tak menampik semua orang keyakinan dan kebenaran secara pribadi. Namun, sebaiknya, jal itu digunakan untuk diri pribadi dan tidak dipaksakan keluar. Kalaupun harus keluar sebaiknya dapat disuguhkan secara baik dan indah. Serta tidak memaksakan pendapat kepada orang lain.BacaSuluk Maleman: Interpretasi Pancasila dalam Nilai KeagamaanIa juga berpendapat kebenaran ilmu pun tidak ada sesuatu yang mutlak. Ilmu justru berkembang lantaran adanya kritik. "Seperti saat Newton dikritik oleh Einstein. Ilmuwan sejati tentunya tidak akan marah saat dikritik,” tandasnya. Reporter: Umar HanafiEditor: Cholis Anwar

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler