MURIANEWS, Pati - Habib Anis Sholeh Ba’asyin meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam mencari kebenaran sejati. Pasalnya, belum tentu sesuatu yang dinarasikan benar dan baik bagi sebagian orang merupakan kebenaran yang hakiki.
Dalam Suluk Maleman edisi ke 122 seri dari rumah pada Sabtu (19/2/2022) malam kemarin. Habib Anis yang juga seorang budayawan mengatakan dalam istilah Jawa ada tiga tingkatan kebenaran. Yakni benar menurut diri sendiri, bener menurut kebanyakan orang
“Dan bener sejati (kebenaran sejati). Oleh karena itulah tidak tepat jika saling mengklaim kebenaran berdasar pendapatnya sendiri maupun kelompoknya.” tutur Habib Anis.
“Karena banyak juga yang dianggap kebenaran ternyata tidak memiliki dasar kebenaran yang jelas,” lanjutnya.
Baca:
10 Tahun Suluk Maleman, Strategi Menghadapi Zaman yang Kian MenggilaBerdasarkan suatu ajaran, kata dia, manusia tidak akan menyentuh kebenaran kecuali yang selalu menyucikan diri. Penyucian diri ini tak sebatas dari kotoran secara fisik namun pemikiran. Baik kepentingan pribadi dan kelompok, maupun penilaian dari masa lalu dan yang berkembang di masyarakat.
Maka dari itu, menurutnya, proses mencari kebenaran ini tak hanya dengan cara tekstual membaca kitab suci semata. Diperlukan juga pembacaan secara non tekstual dengan cara memahami diri manusia, lingkungan hingga alam semesta.
Baca:
Suluk Maleman: Mengurai Batasan, Menemukan KenikmatanHanya saja harus diakui dalam mencari kebenaran ironisnya orang seringkali memilih berdasarkan apa yang diinginkannya saja atau sesuai kepentingannya. Kebenaran tak lagi menjadi penting, namun kepentingan tentang apa yang ingin dilihat yang dianggap kebenaran.
“Bahkan sampai ada pola pikir dimana kesalahan yang diulang-ulang secara terus menerus akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran,” ungkap penggagas Suluk Maleman tersebut.
Prof Saratri Wilonoyudho, juga menyampaikan hal senada. Dia mengingatkan bahwa setiap kebenaran belum tentu kebenaran sejati. Bahkan ilmu pengetahuan sendiri harus terus diperbaharui.
Baca:
Suluk Maleman: Fatamorgana Jadi Pujaan Manusia“Setiap hari kita diajarkan untuk berdoa meminta diberikan jalan yang lurus atau benar. Itu menunjukkan masih sangat mungkin kita berbuat kesalahan,” imbuhnya.
Menurutnya, untuk mencapai kebenaran bisa dilakukan setidaknya lewat tiga tahapan. Yang pertama yakni mempercayai yang ghoib, atau menyadari jika tak semua di dunia ini diketahui dengan nyata. Hal itu dicontohkannya seperti seorang ilmuwan.“Ilmuwan dalam benaknya harus merasa tidak tahu. Keilmuan adalah kerendah hatian untuk merasa tidak tahu. Dari situlah kita akan mengejar ketidak tahuan dengan melakukan penelitian,” imbuhnya.Setelah itu, lanjutnya, masuk mencari keilmuan. Seorang ilmuan tentu sadar tidak ada kebenaran mutlak. Sehingga harus dicari secara berkelanjutan. Semetara tahapan ketiga adalah ditujukan kepada Allah.“Ini juga realisasinya tak semua ditujukan ke Allah. Bahkan itu juga yang mendasari tak sedikitnya ilmu yang hancur dan menuju kerusakan. Karena dasarnya justru untuk komersialisasi, industrialisasi bukan pada sesuatu yang baik,” tambahnya.
Baca:
Suluk Maleman, Gus Mus: Kita Harus Berterimakasih Masih Ditegur AllahHal itupun juga begitu terlihat di dunia politik. Banyak yang justru memanipulasi kebenaran untuk kepentingannya. Seperti orang yang tidak pernah shalat, namun saat menyalonkan diri untuk posisi politik tertentu justru menggunakan banyak simbol keagamaan.“Bisa jadi itu bukanlah kebenaran tapi di klaim sebagai kebenaran dan disuguhkan ke masyarakat. Mereka mencoba memanipulasi kebenaran. Mereka berifikir kesalahan yang menumpuk lambat laun akan diakui sebagai sebuah kebenaran,” terangnya.Sementara itu, Drs. Ilyas Arifin menambahkan, tak menampik semua orang keyakinan dan kebenaran secara pribadi. Namun, sebaiknya, jal itu digunakan untuk diri pribadi dan tidak dipaksakan keluar. Kalaupun harus keluar sebaiknya dapat disuguhkan secara baik dan indah. Serta tidak memaksakan pendapat kepada orang lain.
Baca:
Suluk Maleman: Interpretasi Pancasila dalam Nilai KeagamaanIa juga berpendapat kebenaran ilmu pun tidak ada sesuatu yang mutlak. Ilmu justru berkembang lantaran adanya kritik. "Seperti saat Newton dikritik oleh Einstein. Ilmuwan sejati tentunya tidak akan marah saat dikritik,” tandasnya. Reporter: Umar HanafiEditor: Cholis Anwar
[caption id="attachment_273581" align="alignleft" width="880"]

Anis Sholeh Ba'asyin saat membuka acara (MURIANEWS/Istimewa)[/caption]
MURIANEWS, Pati - Habib Anis Sholeh Ba’asyin meminta masyarakat untuk berhati-hati dalam mencari kebenaran sejati. Pasalnya, belum tentu sesuatu yang dinarasikan benar dan baik bagi sebagian orang merupakan kebenaran yang hakiki.
Dalam Suluk Maleman edisi ke 122 seri dari rumah pada Sabtu (19/2/2022) malam kemarin. Habib Anis yang juga seorang budayawan mengatakan dalam istilah Jawa ada tiga tingkatan kebenaran. Yakni benar menurut diri sendiri, bener menurut kebanyakan orang
“Dan bener sejati (kebenaran sejati). Oleh karena itulah tidak tepat jika saling mengklaim kebenaran berdasar pendapatnya sendiri maupun kelompoknya.” tutur Habib Anis.
“Karena banyak juga yang dianggap kebenaran ternyata tidak memiliki dasar kebenaran yang jelas,” lanjutnya.
Baca:
10 Tahun Suluk Maleman, Strategi Menghadapi Zaman yang Kian Menggila
Berdasarkan suatu ajaran, kata dia, manusia tidak akan menyentuh kebenaran kecuali yang selalu menyucikan diri. Penyucian diri ini tak sebatas dari kotoran secara fisik namun pemikiran. Baik kepentingan pribadi dan kelompok, maupun penilaian dari masa lalu dan yang berkembang di masyarakat.
Maka dari itu, menurutnya, proses mencari kebenaran ini tak hanya dengan cara tekstual membaca kitab suci semata. Diperlukan juga pembacaan secara non tekstual dengan cara memahami diri manusia, lingkungan hingga alam semesta.
Baca:
Suluk Maleman: Mengurai Batasan, Menemukan Kenikmatan
Hanya saja harus diakui dalam mencari kebenaran ironisnya orang seringkali memilih berdasarkan apa yang diinginkannya saja atau sesuai kepentingannya. Kebenaran tak lagi menjadi penting, namun kepentingan tentang apa yang ingin dilihat yang dianggap kebenaran.
“Bahkan sampai ada pola pikir dimana kesalahan yang diulang-ulang secara terus menerus akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran,” ungkap penggagas Suluk Maleman tersebut.
Prof Saratri Wilonoyudho, juga menyampaikan hal senada. Dia mengingatkan bahwa setiap kebenaran belum tentu kebenaran sejati. Bahkan ilmu pengetahuan sendiri harus terus diperbaharui.
Baca:
Suluk Maleman: Fatamorgana Jadi Pujaan Manusia
“Setiap hari kita diajarkan untuk berdoa meminta diberikan jalan yang lurus atau benar. Itu menunjukkan masih sangat mungkin kita berbuat kesalahan,” imbuhnya.
Menurutnya, untuk mencapai kebenaran bisa dilakukan setidaknya lewat tiga tahapan. Yang pertama yakni mempercayai yang ghoib, atau menyadari jika tak semua di dunia ini diketahui dengan nyata. Hal itu dicontohkannya seperti seorang ilmuwan.
“Ilmuwan dalam benaknya harus merasa tidak tahu. Keilmuan adalah kerendah hatian untuk merasa tidak tahu. Dari situlah kita akan mengejar ketidak tahuan dengan melakukan penelitian,” imbuhnya.
Setelah itu, lanjutnya, masuk mencari keilmuan. Seorang ilmuan tentu sadar tidak ada kebenaran mutlak. Sehingga harus dicari secara berkelanjutan. Semetara tahapan ketiga adalah ditujukan kepada Allah.
“Ini juga realisasinya tak semua ditujukan ke Allah. Bahkan itu juga yang mendasari tak sedikitnya ilmu yang hancur dan menuju kerusakan. Karena dasarnya justru untuk komersialisasi, industrialisasi bukan pada sesuatu yang baik,” tambahnya.
Baca:
Suluk Maleman, Gus Mus: Kita Harus Berterimakasih Masih Ditegur Allah
Hal itupun juga begitu terlihat di dunia politik. Banyak yang justru memanipulasi kebenaran untuk kepentingannya. Seperti orang yang tidak pernah shalat, namun saat menyalonkan diri untuk posisi politik tertentu justru menggunakan banyak simbol keagamaan.
“Bisa jadi itu bukanlah kebenaran tapi di klaim sebagai kebenaran dan disuguhkan ke masyarakat. Mereka mencoba memanipulasi kebenaran. Mereka berifikir kesalahan yang menumpuk lambat laun akan diakui sebagai sebuah kebenaran,” terangnya.
Sementara itu, Drs. Ilyas Arifin menambahkan, tak menampik semua orang keyakinan dan kebenaran secara pribadi. Namun, sebaiknya, jal itu digunakan untuk diri pribadi dan tidak dipaksakan keluar. Kalaupun harus keluar sebaiknya dapat disuguhkan secara baik dan indah. Serta tidak memaksakan pendapat kepada orang lain.
Baca:
Suluk Maleman: Interpretasi Pancasila dalam Nilai Keagamaan
Ia juga berpendapat kebenaran ilmu pun tidak ada sesuatu yang mutlak. Ilmu justru berkembang lantaran adanya kritik. "Seperti saat Newton dikritik oleh Einstein. Ilmuwan sejati tentunya tidak akan marah saat dikritik,” tandasnya.
Reporter: Umar Hanafi
Editor: Cholis Anwar