MURIANEWS, Pati - Banyak kisah hidup Ahmad Mutamakkin atau Mbah
Mutamakkin yang bisa menjadi pelajaran bagi generasi setelah. Waliyullah itu dimakamkan di Kajen, Margoyoso, Pati.
Kisah paling populer bagi masyarakat setempat yakni, kala ada dua ekor anjing yang keluar dari tubuh Mbah Mutamakkin. Anjing itu Bernama Abdul Qohar dan Qomaruddin.
Diceritakan, kala itu Mbah Mutamakkin sedang berpuasa selama 41 hari. Beberapa riwayat juga menyebut 40 hari. Di hari terakhir, istrinya diminta memasak makanan terenak dan lezat untuk dihidangkan.
Baca juga: Mbah Mutamakkin Kajen Pati Menolak Tahta Demi IlmuSetelah makanan terhidangkan, Ulama yang juga berjuluk Ki Cebolek ini justru menyuruh istrinya mengikat kedua tangannya di tiang rumah. Ini membuat nafsu dalam dirinya meronta-ronta hingga keluar dari tubuhnya berwujud dua ekor anjing.
Pengamat budaya sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudloh, Desa Kejen, Kecamatan Margoyoso,
Pati, Jawa Tengah, Muhammad Farid Abbad menilai, kisah ini mempunyai makna simbolis yang dalam.
“Pengertian dari dua anjing ini menurut saya bisa dimaknai lagi. Itu bisa saja berwujud material atau fisik, bisa berwujud simbol,” ujar lelaki yang akrab disapa Gus Farid ini.
Menurutnya, anjing yang dalam bahasa Jawa disebut asu, merupakan singkatan dari kata
menebe nafsu atau mengendapnya hawa nafsu.
Menurutnya, anjing yang dalam bahasa Jawa disebut asu, merupakan singkatan dari kata
menebe nafsu atau mengendapnya hawa nafsu.Dengan simbol ini bisa dimaknai setelah berpuasa, Mbah
Mutamakkin mampu mengendalikan anjing-anjingnya atau nafsunya.“Kalau dimaknai lebih jauh, menebe nafsu itu menunjukkan bahwa Mbah Mutamakkin bisa mengelola hawa nafsunya setelah berpuasa. Nafsunya mampu ditundukkan. Mampu diajak bebarengan untuk beribadah kepada Allah,” tutur dia.“Sehingga, Mbah Mutamakkin lah yang menjadi tuan atas nafsunya, mempunyai kekuatan atas nafsunya. Bukan nafsu yang berkuasa atas Mbah Mutamakkin,” lanjut lelaki yang sedang menempuh S2 di Universitas Indonesia ini.Ini sesuai dengan salah satu kitab Tasawuf yang menyimbolkan nafu manusia menjadi tiga macam. Yakni nafsu seperti binatang ternak yang mengandalkan manusia untuk makan atau harus dimanja, nafsu binatang buas yang sulit dikendalikan.“Dan kemudian ada binatang peliharaan seperti anjing dan sebagainya yang bisa dikendalikan. Nafsu itu
meneb (mengendap) bila sudah bisa dikelola, ditata, diatur dan dimong. Kita harus mengetahui kecenderungannya. Sehingga dia bisa lagi mempengaruhi keseluruhan hidup kita," tandas Gus Farid. Reporter: Umar HanafiEditor: Zulkifli Fahmi
[caption id="attachment_282883" align="alignleft" width="1280"]

Kompleks Makam Mbah Mutamakkin, Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. (MURIANEWS/Umar Hanafi)[/caption]
MURIANEWS, Pati - Banyak kisah hidup Ahmad Mutamakkin atau Mbah
Mutamakkin yang bisa menjadi pelajaran bagi generasi setelah. Waliyullah itu dimakamkan di Kajen, Margoyoso, Pati.
Kisah paling populer bagi masyarakat setempat yakni, kala ada dua ekor anjing yang keluar dari tubuh Mbah Mutamakkin. Anjing itu Bernama Abdul Qohar dan Qomaruddin.
Diceritakan, kala itu Mbah Mutamakkin sedang berpuasa selama 41 hari. Beberapa riwayat juga menyebut 40 hari. Di hari terakhir, istrinya diminta memasak makanan terenak dan lezat untuk dihidangkan.
Baca juga: Mbah Mutamakkin Kajen Pati Menolak Tahta Demi Ilmu
Setelah makanan terhidangkan, Ulama yang juga berjuluk Ki Cebolek ini justru menyuruh istrinya mengikat kedua tangannya di tiang rumah. Ini membuat nafsu dalam dirinya meronta-ronta hingga keluar dari tubuhnya berwujud dua ekor anjing.
Pengamat budaya sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudloh, Desa Kejen, Kecamatan Margoyoso,
Pati, Jawa Tengah, Muhammad Farid Abbad menilai, kisah ini mempunyai makna simbolis yang dalam.
“Pengertian dari dua anjing ini menurut saya bisa dimaknai lagi. Itu bisa saja berwujud material atau fisik, bisa berwujud simbol,” ujar lelaki yang akrab disapa Gus Farid ini.
Menurutnya, anjing yang dalam bahasa Jawa disebut asu, merupakan singkatan dari kata
menebe nafsu atau mengendapnya hawa nafsu.
Dengan simbol ini bisa dimaknai setelah berpuasa, Mbah
Mutamakkin mampu mengendalikan anjing-anjingnya atau nafsunya.
“Kalau dimaknai lebih jauh, menebe nafsu itu menunjukkan bahwa Mbah Mutamakkin bisa mengelola hawa nafsunya setelah berpuasa. Nafsunya mampu ditundukkan. Mampu diajak bebarengan untuk beribadah kepada Allah,” tutur dia.
“Sehingga, Mbah Mutamakkin lah yang menjadi tuan atas nafsunya, mempunyai kekuatan atas nafsunya. Bukan nafsu yang berkuasa atas Mbah Mutamakkin,” lanjut lelaki yang sedang menempuh S2 di Universitas Indonesia ini.
Ini sesuai dengan salah satu kitab Tasawuf yang menyimbolkan nafu manusia menjadi tiga macam. Yakni nafsu seperti binatang ternak yang mengandalkan manusia untuk makan atau harus dimanja, nafsu binatang buas yang sulit dikendalikan.
“Dan kemudian ada binatang peliharaan seperti anjing dan sebagainya yang bisa dikendalikan. Nafsu itu
meneb (mengendap) bila sudah bisa dikelola, ditata, diatur dan dimong. Kita harus mengetahui kecenderungannya. Sehingga dia bisa lagi mempengaruhi keseluruhan hidup kita," tandas Gus Farid.
Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi