Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Pati - Desa Gadu, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, Jawa Tengah mempunyai potensi alam yang besar. Alam desa ini subur ditumbuhi pohon randu, karet hingga rambutan.

Potensi itu pun dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam hingga membudidaya lebah madu. Bahkan 700 kepala keluarga disana, 70 persennya merupakan peternak lebah madu.

Dengan potensi itu pun, warga Desa Gadu mampu menghasilkan 500 ton madu dari berbagai jenis lebah. Sayangnya, belum banyak yang mengetahui potensi besar Desa Gadu.

Baca: Begini Janji Bupati Pati Sebelum Purnatugas

Universitas Negeri Semarang (Unnes) pun menerjunkan para dosennya untuk membantu warga di sana. Mereka membantu warga mengenalkan potensi desa melalui pelatihan mengelola website.

Melalui program Pengabdian Masyarakat bagi Dosen, masyarakat didampingi membuat konten-konten yang menarik. Konten-konten itu kemudian dipublikasikan di website yang dikelola desa.

“Kami beserta tim melakukan penataan konten website desa untuk rintisan desa digital. Jadi website Desa Gadu itu sudah ada, tapi perlu update terus. Agar desa lebih dikenal oleh publik maka websitenya harus ditata. Apalagi Desa Gadu mempunyai potensi alam yang melimpah," ujar Ketua Tim dari Unnes, Prof Eva Bonawati.

Dijelaskan, pendampingan pada masyarakat itu dilakukan selama tiga bulan, yakni mulai Mei hingga Juli 2022. Dalam pendampingan itu, diharapkan Desa Gadu jadi rintisan desa digital.Menurut Eva, website Desa Gadu sudah bagus. Namun, masih ada beberapa yang perlu dibenahi.“Perlu ditambah lagi konten-kontennya untuk mengangkat potensi desa. Syukur-syukur orang akan melirik potensi desa. Kekurangan ndak ada tetapi potensi belum menonjol,” ungkap Eva.Kepala Desa Gadu, Imam Solikin menyambut baik langkah Unnes Semarang ini. Ia berharap pelatihan website ini bisa membuat potensi madu di desanya dapat dikenal publik sehingga ekonomi warga ikut terangkat.“Apalagi saat ini era digital. Setelah dikenal orang cari madu bisa mudah dan langsung ke desa Gadu,” tandas lelaki yang akrab disapa Imam ini. Reporter: Umar HanafiEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler