Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Setidaknya ada 42 peserta yang mengikuti acara di Sekretariat IDI Pati ini. Mereka berasal dari berbagai organisasi.

Di antaranya, ibu-ibu anggota Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), perwakilan-perwakilan dari SMK, Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) hingga Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Pati.

Salah satu panitia, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Mustika Mahbubi memaparkan, pelatihan ini bertujuan agar masyarakat awam mengetahui cara penanggan awal henti jantung.

’’Bila ada henti jantung itu bagaimana? Selama ini kan kalau ada henti jantung pada takut, bingung dan panik. Maka kami berikan cara untuk penanganannya,’’ tutur dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini.

Baca: Bendera Raksasa Dibentangkan di Kirab Merah Putih di Pati

Menurutnya, pelatihan ini sangat penting. Mengingat setiap orang berpotensi mengalami henti jantung. Tidak mengenal waktu dan tempat.

Henti jantung ini ditandai dengan tiba-tiba hilangnya kesadaran seseorang, tidak ada nafas dan tidak ada respon ketika dicek respon. Bila seseorang telah mendapat penanganan maka harapan hidup semakin kecil.
Henti jantung ini ditandai dengan tiba-tiba hilangnya kesadaran seseorang, tidak ada nafas dan tidak ada respon ketika dicek respon. Bila seseorang telah mendapat penanganan maka harapan hidup semakin kecil.’’Henti jantung, kalau kita diamkan, tidak kita tangani pertama kali, semenit kita terlambat menangani, harapan hidup hilang 7-10 persen. Kalau kita telat 10 menit maka harapan hidupnya sudah kecil,’’ tutur dokter yang akrab disapa dr Bubi itu.Ia menyontohkan kejadian di Korea Selatan beberapa waktu lalu. Beberapa orang memberikan kompresi dada detak jantung luar atau hands only CPR. Itu membuat korban yang berjatuhan tidak semakin banyak.’’Hands only CPR harus diajarkan semakin banyak yang mengetahui maka semakin bagus,’’ kata dia.Pihaknya pun berencana menggelar pelatihan ini di kemudian hari. Dengan harapan semakin banyak masyarakat yang memahami penanganan henti jantung. Reporter: Umar HanafiEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler