Jumat, 24 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Berdasarkan data yang dihimpun Murianews dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati dan Kodim 0718/Pati, banjir di Kabupaten Pati menyisakan 19 desa.

Belasan desa itu tersebar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Sukolilo, Kayen, Gabus, Pati, Jakenan, dan Juwana. Umumnya, desa-desa itu terletak di pinggir Sungai Juwana atau Sungai Silugonggo.

Ketinggian air di desa-desa itu bervariasi. Antara 10 cm hingga 150 cm.

Baca: 6.641 Hektare Sawah Padi di Pati Puso Gegara Banjir

Desa-desa yang masih tergenang di antaranya Desa Banjarsari, Mintobasuki, Tanjang, Babalan (Gabus), Kasiyan, Gadudero (Sukolilo), Srikaton, Pasuruhan, Pesagi (Kayen), Mustokoharjo (Pati), Ngastorejo (Jakenan) dan Doropayung (Juwana).

Jumlah ini menurun drastis dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pati, setidaknya 40 desa masih terendam banjir pada Senin (16/1/2023).

’’Perkembangan banjir saat ini sudah banyak yang surut. Tinggal beberapa desa yang masih tergenang banjir,’’ ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya, Kamis (19/1/2023).
’’Perkembangan banjir saat ini sudah banyak yang surut. Tinggal beberapa desa yang masih tergenang banjir,’’ ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya, Kamis (19/1/2023).Terpisah, Camat Kayen Tri Wijanarko menambahkan, di wilayahnya ada tiga desa yang masih digenangi air. Umumnya banjir terjadi di lahan pertanian dan tambak. Sementara di pemukiman sudah surut.’’Wilayah Kayen mulai surut. Karena empat hari panas terus. Yang rumah sudah tidak ada yang tergenang. Kalau persawahan masih lama surutnya. Biasanya satu bulan lebih baru hilang airnya. Karena ada cekungan. Ketinggian di persawahan mungkin 1 meter masih ada. Jadi bisa dilalui perahu,’’ kata dia.Meskipun sudah tidak ada pemukiman yang tergenang air, namun Dukuh Donomulyo, Desa Srikaton masih terisolir. Pasalnya akses jalan satu-satunya yakni Desa Kasiyan belum bisa dilalui kendaraan bermotor. Masyarakat pun masih mengandalkan bantuan makanan.’’Kalau ke sana harus menggunakan perahu. Untuk bantu ini masih mengalir,’’ pungkas dia. Reporter: Umar HanafiEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News