Jumat, 24 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kondisi itu membuat warga di Kabupaten Pati khawatir banjir kembali datang. Terutama warga Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus.

Desa itu masih terendam banjir sejak Sabtu (31/12/2022) lalu. Saat itu banjir menggenangi 227 rumah. Ketinggian banjir pun mencapai 120 cm.

Kini banjir berangsur surut. Namun, masih ada puluhan rumah yang tergenang air. Ketinggian di dalam rumah tinggal sekitar 10 cm hingga 20 cm.

Baca: Proyek IBS RSUD Kudus Bikin Bupati Kecewa, Begini Jawaban Plt Direktur

’’Alhamdulillah, beberapa hari ini surut. Harapan kami secepatnya surut karena sudah lama bertahan di atas air. Di RT 1 RW 2 sekitar 15 rumah, di RT 5 RW 1 puluhan rumah yang daratannya rendah,’’ ujar Ketua RT 1 RW 2 Desa Mintobasuki, Trimo.

Meskipun mulai surut, warga masih diliputi kekhawatiran banjir meninggi lagi. Pasalnya, musim hujan belum berakhir. Panggung atau ranggon yang dibuat mereka untuk beraktivitas di tengah banjir pun belum dibongkar.

’’Cuaca hujan, agak ragu juga. Yang membuat ranggon belum dibongkar. Karena saat ini masih musim hujan. Keyakinan orang Jawa setelah Imlek itu masih hujan,’’ kata dia.Selain pemukiman, banjir juga masih menggenangi puluhan hektare lahan persawahan. Ini membuat para petani mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Para petani dan nelayan juga belum bisa bekerja.’’Warga mulai beraktivitas yang kerjanya di luar. Yang petani dan nelayan masih belum bisa bekerja. Karena lahan pertaniannya tergenang air,’’ pungkas dia.Diketahui, banjir di desa ini akibat curah hujan tinggi yang terjadi pada akhir tahun 2022 lalu. Ini membuat aliran Sungai Juwana atau Sungai Silugonggo meluap dan meluber ke puluhan desa yang dilewatinya. Reporter: Umar HanafiEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler