Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Tradisi ini biasa diikuti oleh anak-anak. Ada lagu yang sering dinyanyikan. Liriknya, “Golok-golok mentok, bancaane cah wedok, cah lanang ra entuk njanthok, nek njanthok udele kethok". (Golok-golok menthok, selamatannya anak perempuan, anak laki-laki tidak boleh minta, kalau minta pusarnya kelihatan).

Kendati lagu golok-golok mentok ditujukan bagi anak perempuan, namun tak ada larangan bagi anak laki-laki untuk mengikutinya. Seperti dalam tradisi golok-golok mentok yang digelar di Dukuh Jatisari, Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus, Rabu (28/10/2020) malam.

“Ini merupakan tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang harus kita jaga dan lestarikan. Karena tradisi ini merupakan bentuk kecintaan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Jadi dengan adanya tradisi ini, anak-anak dikenalkan sedini mungkin. Harapannya bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW,” kata tokoh masyarakat Dukuh Jatisari Akhrozi, S. Pd.

Peringatan tradisi golok-golok Mentok di Dukuh Jatisari diperingati dengan cara anak-anak membawa bekal sendiri-sendiri dari rumah. Di tempat golok-golok mentok yang terbuat dari anyaman bambu itu biasanya diisi jajan pasar.

Setelah itu, anak-anak berjalan memutari kampung sambil bersenandung lagu golok-golok mentok menuju ke masjid."Tradisi ini merupakan tradisi yang sangat unik dan mengandung kearifan lokal daerah setempat. Maka sepatutnya kita sebagai generasi muda ikut menjaga dan melestarikan tradisi tersebut,” Imbuh Septia Aisyah, salah satu anggota KKN RDR 75, UIN Walisongo Semarang yang ikuti mendampingi pelaksanaan tradisi tersebut. Penulis: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler