Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Bahkan, menurut pengelola program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Ruwisno, angka pengidap penyakit selalu meningkat setiap tahunnya.

Jika berkaca pada 2019, ada 154 orang di Kudus yang terjangkit HIV/AIDS. Untuk luar wilayah totalnya ada 41 orang terdiri dari 28 laki-laki dan 13 perempuan.

Sedangkan di dalam wilayah di 2019 ada 113 orang. Terdiri dari 68 laki-laki dan 45 perempuan.

Di tahun 2020 ini, sampai pertengahan November sudah ada 105 orang yang terjangkit HIV/AIDS. Mereka tersebar merata di sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus. Jumlah tersebut diprediksi masih bisa naik hingga Desember 2020 ini.

Ruwisno mengatakan faktor penyebab terjangkit HIV/AIDS lantaran sering berganti-ganti pasangan.

"Faktornya ya karena berganti-ganti pasangan. Biasanya masyarakat Kudus itu tertularnya justru di luar kota. Karena mobilitas ke luar kota yang tinggi itu dan banyak ’jajan’, terus datang ke Kudus menularkan HIV/AIDS. Biasanya yang paling banyak kena ya laki-laki," katanya, Rabu (25/11/2020).

Lebih lanjut, Ruwisno membeberkan ciri-ciri terjangkit HIV/AIDS. Meliputi badan yang semakin kurus, terdapat jamur di lidah, terdapat jamur di mulut, dan memiliki riwayat penyakit kelamin seperti sifilis.
Lebih lanjut, Ruwisno membeberkan ciri-ciri terjangkit HIV/AIDS. Meliputi badan yang semakin kurus, terdapat jamur di lidah, terdapat jamur di mulut, dan memiliki riwayat penyakit kelamin seperti sifilis.Menurut Ruwisno, pengidap HIV/AIDS tidak dapat sembuh. Namun, dampaknya dapat diminimalisir dengan mengonsumsi obat. Salah satunya dengan obat antiretroviral (ARV).Jika rutin mengonsumsi obat, pengidap HIV/AIDS masih memiliki harapan hidup sampai usia 64 tahun. Selain itu, voluntary counselling and testing (VCT) atau konseling dan tes HIV secara sukarela (KTS) bisa dimanfaatkan masyarakat."Untuk kontrol VCT atau istilahnya kontrol itu juga bisa dilakukan di puskesmas. Tapi kalau dari situ diketahui positif HIV/AIDS akan langsung dirujuk di rumah sakit," terang dia.Di Kudus ada dua rumah sakit yang menangani pasien HIV/AIDS. Yakni RSUD Loekmono Hadi dan Rumah Sakit Islam Sunan Kudus. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler