Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ditemui MURIANEWS di kediamannya yang berada di Desa Piji, RT I, RW IV, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sugiharto menjelaskan tentang kue tradisional yang diberi nama Gembala Sapi itu.

"Ini merupakan kue tradisional dan sudah ada sejak 60 tahun yang lalu. Saat itu yang membuat kakek saya dan di masa itu pengerjaannya masih manual belum pakai mixer dan oven. Makanya disebut juga roti legendaris," katanya, Kamis (17/12/2020).

Dia menyebut, proses pembuatannya tidak sembarangan. Sebab, bergantung pada kondisi cuaca. Bahkan, metode pembuatan antara pagi hari dengan siang hari dilakukan secara berbeda.

"Bahannya tepung kanji, gula dan kelapa. Tapi proses pembuatannya berbeda antara pagi dan siang hari," ujarnya.

Menurutnya ketika proses pembuatan kue dilakukan di pagi hari, ketika roti selesai dicetak dapat langsung dioven. Sebab kondisi cuaca yang masih dingin membuat kadar air pada kue masih pas.

"Kalau siang hari kadar air di kue kan menguap. Sehingga kue jadi kering dan harus disemprot lagi dengan air sebelum dimasukkan ke oven," terangnya.

Lebih lanjut, proses penyemprotan juga tidak dapat dilakukan sembarangan. "Kalau nyemprotnya kebanyakan, kuenya mengembangnya tidak ke atas. Tapi justru ke samping. Jadinya jelek," ungkapnya.
Lebih lanjut, proses penyemprotan juga tidak dapat dilakukan sembarangan. "Kalau nyemprotnya kebanyakan, kuenya mengembangnya tidak ke atas. Tapi justru ke samping. Jadinya jelek," ungkapnya.Setelah dikemas, pihaknya memasarkan kue gembala sapi ke area di luar Kudus yang sudah memiliki peminat. Mulai dari Pati, Wonogiri, dan Jepara. Dalam sehari dia pernah menjual hingga setengah kuintal kue."Kalau di Kudus malah belum ada pangsa pasar. Kalau memasarkan kebanyakan ke Pati, Jepara, dan Wonogiri. Harganya beragam, untuk ukuran 1,5 ons ini harganya Rp 12 ribu. Kami juga ada ukuran seperempat kilogram dan setengah kilogram," imbuhnya.Pria yang sudah memulai produksi roti puluhan tahun itu berharap ke depannya bisa mengembangkan pemasaran kue gembala sapi lebih luas lagi.  Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler