Pria di Kudus Ini Pilih Budidaya Lebah Australia karena Lebih Jinak dan Menguntungkan
Vega Ma'arijil Ula
Sabtu, 19 Desember 2020 15:54:50
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Ditemui di kediamannya di Dukuh Pliring, Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus, Noor Khasan menjelaskan tentang budidaya lebah mellifera Australia.
"Lebah lebih mudah untuk dipelihara dan dibudidayakan. Kalau lebah Jawa atau lebah hutan lebih sulit dan tidak bisa diletakkan ke dalam kotak atau stup," katanya, Sabtu (19/12/2020).
Selain itu, menurut pria yang sudah beternak lebah sejak 1997 itu kualitas madu mellifera lebih bagus. Sehingga hasilnya lebih banyak dan menuntungkan.
"Hasilnya lebih banyak kalau saat panen. Biasanya panennya 12 hari sekali di bulan Mei sampai November. Kalau lebah yang lainnya hasilnya tidak tentu," ujarnya.
Saat ini, pria kelahiran Kudus, 7 Mei 1974 itu memiliki 100 stup (kotak lebah). Saat musim panen tiba, dalam sebulan dia bisa panen sampai 3 kuintal madu.
Hal itu dengan asumsi satu stupnya sebanyak tiga kilogram madu. Dengan rentan 12 hari panen. Artinya, dalam sebulan dia mampu panen sebanyak dua kali.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News



