Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Percetakan Menara Kudus yang terletak di Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus menjadi salah satu percetakan Alquran dan kitab-kitab Islam tertua di Indonesia. Bahkan saat ini satu-satunya di Kudus.

Hingga kini percetakan ini mampu mengekspor Alquran ke beberapa negara. Di anataranya Malaysia dan Brunei Darussalam.

Berdiri pada 1952 silam, Percetakan Menara Kudus membuat 60 item Alquran dengan empat tipe khot setiap harinya. Yakni khot Utsmani, khot Bahriyah, khot Bombay, dan khot standar Departemen Agama Republik Indonesia.

Dalam sehari setidaknya ada dua ribu Alquran di tiap-tiap item yang diproduksi oleh Percetakan Menara. Jumlah tersebut terus berjalan setiap harinya, baik ada pesanan maupun tidak ada pesanan.

[caption id="attachment_215521" align="alignleft" width="880"] Karyawan Percetakan Menara membuat desain khot Alquran menggunakan komputer. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)[/caption]

"Pemasaran ke Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Banyak peminat karena ciri khas Alquran yang dipakai di Malaysia dan Brunei Darussalam sama dengan yang kita baca sehari-hari," kata Direktur Percetakan Menara Kudus, Ahmad Fatoni, Rabu (28/4/2021).

Ciri khas yang dimaksud yakni penulisan khot di dalam Alquran. Misalnya yakni penulisan kasrah yang tetap diletakkan di bawah huruf hijaiyah. Sedangkan penulisan tanwin diletakkan di atas huruf hijaiyah.Menurut Ahmad Fatoni, kondisi ini berbeda dengan Alquran yang dibuat di negara Arab Saudi. Di mana penulisan tanwin dan kasrah diletakkan di atas huruf hijaiyah secara bertumpukan.Hal ini bagi warga Malaysia dan Brunei Darussalam masih asing sehingga kurang diminati. Alhasil lebih memilih Alquran buatan Percetakan Menara Kudus."Keunggulan Alquran yang kami cetak itu ada pada ketelitian. Kami ada tim koreksi di tiap-tiap tahapan. Mulai dari tim koreksi pracetak, cetak, post cetak, finishing, dan konsumen. Kalau nanti Alquran yang diterima konsumen ada kesalahan boleh dikembalikan dan kami ganti yang benar," pungkasnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler