Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus – Dua tim asal Kabupaten Kudus mengikuti Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) 2021, yang merupakan ajang kebudayaan dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbud-Ristek RI).

Ada pun, dua tim tersebut yakni Kampung Budaya Piji Wetan dan KBPW Indonesia. Kedua tim tersebut nantinya akan mempresentasikan ide untuk kemajuan kebudayaan di Kawasan Muria.

Masing-masing tim diisi tiga orang, yakni Muhammad Farid, Hasyim Asnawi dan Nor Zahroh dari tim Kampung Budaya Piji Wetan. Sementara, dari KBPW Indonesia diisi, Umi Zakiyyatun Nafis, Muhammad Rifqi Bakhtiar, dan Tsania Laila Maghfiroh.

“Saat ini tim sedang menjalani pelatihan di tingkat regional. Semoga nanti bisa juara dan mengharumkan nama Kabupaten Kudus,” kata, Ketua KBPW Indonesia, Umi Zakiyyatun Nafis.

Dalam kegiatan itu, dia membawakan permainan anak yang bernama Emprit Ganthil. Permainan yang berbasis cerita rakyat setempat itu diangkat untuk melestarikan budaya setempat.

“Melalui permainan ini, semoga nantinya bisa memunculkan karakter anti korupsi, menciptakan keteraturan sosial dan tentu kelestarian budaya setempat,” sambungnya.

Sementara itu, anggota tim Kampung Budaya Piji Wetan, Nor Zahroh menjelaskan keinginannya untuk mengangkat permainan anak tersebut. Menurutnya permainan tersebut dapat menghadirkan pengamalan masa lalu, sehingga dapat disimak kembali oleh generasi sekarang.“Bisa jadi semacam melihat masa lampu. Seperti bagaimana proses perdagangan dan pertukaran budaya pribumi dengan orang-orang mancanegara di Kawasan Muria. Selain itu bisa jadi acuan perencanaan pembangunan daerah, sehingga bisa sesuai dengan segala aspek, mulai dari lingkungan, sosial, ekonomi maupun budaya itu sendiri,” imbuhnya.Pihaknya meminta doa dan dukungan masyarakat Kudus agar mendapatkan hasil terbaik di even kali ini, sehingga dapat memajukan aspek Kebudayaan Kudus di kancah nasional.“Semoga bisa mendapatkan hasil terbaik, dan bisa mendaftarkan Kawasan Muria sebagai warisan budaya yang diakui oleh UNESCO," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler