Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Deretan bambu tertata rapi membentuk jembatan di perbatasan antara Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus, dan Desa Kedungwaru Lor, Kabupaten Demak. Jembatan dengan landasan dari barisan papan tersebut dikenal dengan nama Jembatan Sasak.

Lokasi jembatan ini bisa ditemui di sebelah selatan SDN 1 Setrokalangan, Kaliwungu, Kudus. Panjang jembatan sekitar 18 meter dengan lebar satu meter.

Jembatan yang ditopang dari kayu itu melintang berada di atas Sungai Wulan. Meski sempit dan terkesan rentan, namun tiap hari jembatan ini sangat ramai dilintasi warga di dua kabupaten tersebut.

Walaupun untuk melintasi jembatan ini tidaklah gratis. Pengendara sepeda motor harus merogoh kocek Rp 2 ribu untuk melintas.

Salah seorang warga asal Demak, Siti mengatakan meski harus membayar namun keberadaan jembatan sangat membantu dirinya untuk bekerja. Dia berasal dari Demak dan bekerja di salah satu pabrik rokok di Kudus.

[caption id="attachment_235585" align="alignleft" width="880"] Pengendara membayar ke penjaga saat melintas di Jembatan Sasak yang menghubungkan Kudus-Demak. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)[/caption]

Pasalnya, jika harus melintas di jalan utama ia harus berputar dan membutuhkan waktu yang sangat lama.

"Sangat membantu karena kalau harus lewat Tanggulangin justru lebih lama. Karena saya jam lima pagi sudah harus berangkat bekerja," katanya, Selasa (24/8/2021).Sementara itu, salah seorang penjaga jembatan menjelaskan, Jembatan Sasak tersebut sudah puluhan tahun menjadi jalan pintas bagi warga. Mereka merupakan warga Demak maupun warga Kudus.Namun jembatan ini hanya bisa digunakan saat musim kemarau saja, saat air sungai tak terlalu tinggi."Kalau kemarau jembatannya bisa dilewati. Kalau musim hujan warga yang mau menyeberang harus menggunakan perahu," ujarnya.Lebih lanjut, Suwarno menyampaikan tarif melewati jembatan tersebut tergolong standar karena hanya Rp 2 ribu. "Motor atau sepeda sama sebesar dua ribu sekali lewat. Kalau mobil tidak bisa lewat," pungkasnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler