Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
MURIANEWS, Kudus - Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia Mochamad Widjanarko yang juga sebagai pengajar Psikologi Lingkungan di Universitas Muria Kudus (UMK) menyebut jika kawasan Patiayam saat ini kondisinya memprihatinkan. Sekitar 80 persen wilayah itu gersang.
Widjanarko menjelaskan, pentingnya ada pemetaan di kawasan Patiayam. Fungsinya untuk mengetahui kawasan yang gundul itu milik Perhutani atau masyarakat setempat.
"Kalau yang gundul itu ada di area Perhutani, perlu didorong agar Perhutani ikut serta melakukan penghijauan. Tetapi masyarakat juga harus diajak. Karena tanamannya yang tahu kan masyarakat situ. Sehingga Perhutani tidak asal tanam," katanya, Selasa (14/9/2021).
Menurutnya, kawasan Patiayam gersang karena tidak adanya kajian dalam melakukan penghijauan. Sehingga menurutnya perlu adanya evaluasi kembali sebelum melakukan penghijauan.
"Oleh karena itu perlu adanya evaluasi. Kalau dibilang penghijauan sudah dilakukan, harus dilihat juga efeknya apa. Apakah sumber mata airnya sudah bagus dan tanaman di kawasan Patiayam sudah tumbuh dengan bagus belum. Jangan asal mengatakan sudah dilakukan penghijauan," ujar dia.
Baca Juga
Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik
WhatsApp Channel
&
Google News




Kawasan Patiayam tampak gersang dan tandus. (MURIANEWS/Vega Ma'arijil Ula)[/caption]
MURIANEWS, Kudus - Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia Mochamad Widjanarko yang juga sebagai pengajar Psikologi Lingkungan di Universitas Muria Kudus (UMK) menyebut jika kawasan Patiayam saat ini kondisinya memprihatinkan. Sekitar 80 persen wilayah itu gersang.
Widjanarko menjelaskan, pentingnya ada pemetaan di kawasan Patiayam. Fungsinya untuk mengetahui kawasan yang gundul itu milik Perhutani atau masyarakat setempat.
"Kalau yang gundul itu ada di area Perhutani, perlu didorong agar Perhutani ikut serta melakukan penghijauan. Tetapi masyarakat juga harus diajak. Karena tanamannya yang tahu kan masyarakat situ. Sehingga Perhutani tidak asal tanam," katanya, Selasa (14/9/2021).
Menurutnya, kawasan Patiayam gersang karena tidak adanya kajian dalam melakukan penghijauan. Sehingga menurutnya perlu adanya evaluasi kembali sebelum melakukan penghijauan.
"Oleh karena itu perlu adanya evaluasi. Kalau dibilang penghijauan sudah dilakukan, harus dilihat juga efeknya apa. Apakah sumber mata airnya sudah bagus dan tanaman di kawasan Patiayam sudah tumbuh dengan bagus belum. Jangan asal mengatakan sudah dilakukan penghijauan," ujar dia.
Baca: