Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Kudus - Peneliti Muria Research Center (MRC) Indonesia Mochamad Widjanarko yang juga sebagai pengajar Psikologi Lingkungan di Universitas Muria Kudus (UMK) menyebut jika kawasan Patiayam saat ini kondisinya memprihatinkan. Sekitar 80 persen wilayah itu gersang.

Widjanarko menjelaskan, pentingnya ada pemetaan di kawasan Patiayam. Fungsinya untuk mengetahui kawasan yang gundul itu milik Perhutani atau masyarakat setempat.

"Kalau yang gundul itu ada di area Perhutani, perlu didorong agar Perhutani ikut serta melakukan penghijauan. Tetapi masyarakat juga harus diajak. Karena tanamannya yang tahu kan masyarakat situ. Sehingga Perhutani tidak asal tanam," katanya, Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, kawasan Patiayam gersang karena tidak adanya kajian dalam melakukan penghijauan. Sehingga menurutnya perlu adanya evaluasi kembali sebelum melakukan penghijauan.

"Oleh karena itu perlu adanya evaluasi. Kalau dibilang penghijauan sudah dilakukan, harus dilihat juga efeknya apa. Apakah sumber mata airnya sudah bagus dan tanaman di kawasan Patiayam sudah tumbuh dengan bagus belum. Jangan asal mengatakan sudah dilakukan penghijauan," ujar dia.

Baca: Hujan Berhari-hari, Fosil Gajah Purba Bermunculan di Kawasan PatiayamIa menyebut, jika dilakukan secara benar bukan tidak mungkin sepuluh tahun lagi Patiayam akan Kembali hijau."Kalau menurut saya di kawasan Patiayam itu kalau ditanami pepaya atau alpukat, kurun waktu sepuluh tahun bisa hijau lagi. Tetapi harus dipantau dan dievaluasi juga oleh Perhutani maupun masyarakat setempat," imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler